25 September 2020, 10:15 WIB

Buku Pelajaran Harus Memuat Sejarah yang Benar Tentang G30S


Ilham Pratama Putra | Humaniora

PENELITI senior bidang Sejarah dan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam menyebut buku pelajaran sejarah di sekolah masih menutup fakta lainnya tentang peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Menurutnya tidak terbukanya buku paket sekolah tentang sejarah adalah kemunduran pendidikan sejarah di Indonesia.

"Iya, jadi di dalam situ (buku sejarah di sekolah) menjadi satu kemunduran," kata Asvi kepada Medcom.id, Kamis (24/9).
Padahal kata dia, pada 2004, kurikulum pendidikan Indonesia nyaris memuat buku sejarah yang baik. Pada tahun itu, materi tentang peristiwa G30S/PKI telah diluruskan dengan landasan kesaksian dan penelitian.

"Itu kurikulum itu tidak disahkan oleh menteri. Itu sebenernya sudah ada penjelasan mengenai G30S, tapi kan kurikulum itu tidak disahkan pada 2004, padahal sudah disosialisasikan dan kemudian diganti dengan kurikulum 2006," sambungnya.

Hingga akhirnya, buku sejarah yang dipaketkan di sekolah saat ini, masih berisi peninggalan dan doktrinisasi versi Orde baru. Untuk itu, dia meminta berbagai organisasi sejarah seperti Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan Masyarakat Sejarah Indonesia mendorong perubahan itu.
 
"Saya kira mereka biasa membahas dalam diskusi mereka, dan kemudian diusulkan untuk dimasukkan ke dalam kurikulum. Kajiannya sudah ada, tapi itu belum dimasukkan kurikulum. Jadi mereka itu harus mengeluarkan semacam buku pedoman dan itu diserahkan kepada pusat kurikulum (Puskurbuk)," terang Asvi.(H-1)

 

BERITA TERKAIT