25 September 2020, 09:10 WIB

Angka Stunting dan Gizi Buruk di Kota Kupang Melonjak


Palce Amalo | Nusantara

JUMLAH balita yang mengalami stunting dan gizi buruk di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, sama-sama mengalami lonjakan.

Sesuai data yang diunggah di Elektronik-Pencacatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), Jumat (25/9), kasus stunting pada 2020 tercatat 5.151 balita atau 32,2%, melonjak jika dibandingkan angka stunting pada 2019 yang sebanyak 3.892 balita atau 29,9%.

Untuk angka balita gizi buruk juga mengalami lonjakan sebanyak 5% atau 796 kasus pada 2020 dibandingkan angka gizi buruk pada 2019 sebanyak 353 kasus atau 2,3%.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang Retnowati mengatakan peningkatan angka stunting dan gizi buruk tidak hanya terjadi pada dua tahun terakhir.

Baca juga: Mutu Pendidikan Aceh Terendah di Tingkat Nasional

Jika membandingkan angka stunting dan gizi buruk pada 2018 dan 2019 juga mengalami lonjakan. Untuk stunting, pada 2018 sebanyak 3.426 kasus 23,4% dan angka gizi buruk 218 kasus atau 1,47%.

Menurut Retnowati, peningkatan angka balita gizi buruk dan stunting terjadi bukan karena dinas kesehatan tidak maksimal dalam melakukan upaya pencegahan dan pengendalian. Sebaliknya, dinas kesehatan gencar melaksanakan program Penanganan Gizi Buruk Terpadu (PGBT)  dan  Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

Dua program itu melibatkan masyarakat dan lintas sektor sehingga kasus balita gizi buruk dan stunting makin banyak ditemukan untuk selanjutnya didata dan ditangani.

"Tahun kemarin, dibantu Unicef dan lembaga agama, kita sosialisasi PGBT di enam kecamatan dengan melibatkan para kader posyandu, tokoh masyarakat, tokoh agama, lurah dan komponen masyarakat lainnya. Dengan pemahaman yang semakin baik, banyak keluarga yang kemudian proaktif melaporkan soal tumbuh kembang anak-anaknya. Jadi temuan kasusnya menjadi lebih banyak," katanya.

Selama ini, pencegahan dan penanganan gizi buruk dan stunting antara lain pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri, ibu menyusui dan ibu hamil untuk mencegah anemia, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK).

Selanjutnya, peningkatan kapasitas petugas dengan pelatihan PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) yang dilanjutkan dengan pelatihan kader PMBA sebagai pendamping ibu hamil dan balita di masyarakat, serta mendorong pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif hingga 23 bulan.

Pelaksanaan kegiatan PMBA yang dilaksanakan dengan konseling maupun praktek kepada orangtua atau pengasuh. Tata laksana balita gizi buruk rawat jalan dengan pedoman PGBT dengan balita gizi buruk tanpa komplikasi dirawat dengan obat terapi gizi atau Ready to Use Terapheutic Food (RUTF), pendistribusian vitamin A dan mineral mix, dan penyediaan obat cacing dan imunisasi lengkap serta pencegahan dan pengobatan diare.

Dia mengatakan, intervensi program perbaikan gizi balita gizi buruk dilakukan selama 90 hari.

Namun, setelah diterapi dan dikembalikan ke keluarganya, ada anak yang kembali ke status gizi buruk karena sangat tergantung pada ketahanan pangan setiap keluarga, asupan gizi dan beragam pola makan.

"Penanganan masalah gizi buruk dan stunting itu multisektor. Tidak bisa hanya dari sektor kesehatan. Untuk penanganan gizi buruk menjadi tidak gizi buruk tugas dinas kesehatan. Sedangkan setelah dikembalikan ke keluarga, tanggung jawabnya sudah multisektor," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT