25 September 2020, 07:12 WIB

PBB Khawatir Penanganan Iklim Sama Buruknya dengan Covid-19


Faustinus Nua | Internasional

AMERIKA Serikat (AS), Tiongkok, dan Rusia, Kamis (24/9) berdebat panas selama pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang pandemi covid-19. Lantas, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan badan tersebut bahwa, jika krisis iklim menggunakan pendekatan yang sama, dengan perpecahan dan kekacauan yang sama seperti covid-19, dirinya takut pada hal terburuk.

Guterres mengatakan covid-19 tidak terkendali ketika jumlah kematian global mendekati 1 juta, sementara lebih dari 30 juta telah terinfeksi. Dia menyalahkan kurangnya kesiapan global, kerja sama, persatuan, dan solidaritas.

"Pandemi adalah ujian nyata kerja sama internasional, ujian yang pada dasarnya kami gagal," katanya kepada badan beranggotakan 15 orang itu.

Baca juga: Kasus Covid-19 Naik Terus, Eropa Waspadai Bahaya Twindemic

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan diplomat tinggi pemerintah Tiongkok Wang Yi, menyindir AS selama pertemuan dewan virtual tentang pemerintahan global pascacovid-19. Duta Besar AS Kelly Craft pun balas menyerang keduanya.

"Malu pada diri masing-masing. Saya heran dan saya muak dengan isi diskusi hari ini, anggota dewan yang mengambil kesempatan ini untuk fokus pada dendam politik daripada masalah kritis yang ada," katanya.

Meski tidak menyebutkan negara mana pun, Lavrov mencatat pandemi telah memperdalam perbedaan antarnegara. Tidak heran perselisihan pun dapat terjadi dan semakin memburuk.

"Kami melihat upaya dari masing-masing negara untuk menggunakan situasi saat ini untuk memajukan kepentingan sempit mereka saat ini, untuk menyelesaikan masalah dengan pemerintah yang tidak diinginkan atau pesaing geopolitik," katanya.

Ketegangan yang telah lama membara antara AS dan Tiongkok mencapai titik didih terkait pandemi. Washington menyoroti upaya Beijing untuk pengaruh multilateral yang lebih besar dalam tantangan terhadap kepemimpinan tradisional.

Wang menyerukan koordinasi dan kerja sama yang lebih baik di antara kekuatan utama pada hari Kamis.

"Negara-negara besar bahkan lebih berkewajiban mengutamakan masa depan umat manusia, membuang mentalitas Perang Dingin dan bias ideologis, dan bersatu dalam semangat atau kemitraan untuk mengatasi kesulitan," ungkapnya. (CNA/OL-1)

BERITA TERKAIT