25 September 2020, 04:05 WIB

Waad Al Kateab Detail Berkisah tentang Perang


Indrastuti | Humaniora

NAMA sutradara Waad Al Kateab secara tak terduga masuk daftar 100 orang paling berpengaruh 2020 yang dirilis majalah Time pada Selasa (22/9). 

Nama Waad Al Kateab masuk kategori pionir setelah fi lm dokumenter karyanya, For Sama, yang menceritakan perang sipil dan kejahatan kemanusiaan di Aleppo, Suriah, menarik perhatian dunia.

Dalam video testimoninya setelah masuk daftarTime, Al Kateab menceritakan pengalamannya memfi lmkan perang yang terjadi. “Nama saya Al Kateab, saat ini saya tinggal di London. Kamera ini salah satu barang bersejarah yang saya bawa dari Aleppo beberapa tahun lalu. Saya tidak mengutak-atiknya, saya membiarkannya sebagaimana adanya,” ujar Al Kateab.

Menurut Al Kateab, ia tidak merencanakan For Sama untuk menjadi film dokumenter dari awal. “Saya hanya ingin menangkap apa yang dilihat saat itu. Saya sangat terkejut dengan kondisi yang ada. Pada saat itu saya merasa punya ‘cara’ yang istimewa untuk membuat dunia dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana,” ujarnya.

Berbeda dengan jurnalis asing yang datang ke Suriah untuk meliput perang hanya selama beberapa hari, situasi Al Kateab sangat berbeda. “Ini tempat saya tinggal, ini adalah orang-orang saya.”

For Sama difilmkan selama 5 tahun peperangan di Aleppo, salah satu kota di Suriah. Film tersebut menceritakan kelahiran dan masa kecil Sama, anak Kateab, juga mengisahkan suami Kateab, Hamza Al Kateab, satu dari sedikit dokter yang bertahan di Aleppo saat perang sipil terjadi.

Al Kateab merekam footage selama 500 jam dan menyusunnya menjadi film dengan bantuan asisten sutradara Edwards Watts. Ia berkampanye menentang Presiden Bashar Al Assad yang kemudian membuat ia akhirnya terpaksa meninggalkan kampung halaman dan pindah ke Inggris pada 2016.

Al Kateab banyak dipuji karena For Sama berkisah dari sudut pandang yang berbeda dengan film dokumenter umumnya. “Banyak sekali karya yang menceritakan Aleppo dengan bagus, sayangnya kurang detail. Sebagai perempuan, saya sangat peduli dengan detail dan mencoba menganalisis apa yang terjadi di sekitarku,” kata Al Kateab. 

Ia mengatakan sangat menjiwai cerita dalam For Sama karena merasa bahwa saat-saat tersebut adalah detikdetik terakhir dalam hidupnya.


Penghargaan

Dalam film, Al Kateab menjelaskan kepada putrinya, Sama, mengapa dia dan suaminya, Hamzah, memutuskan untuk tinggal di Aleppo Timur bahkan setelah pengepungan akibat perang sipil di Suriah. 

Cara Al Kateab bercerita dan nada berbicara yang lembut sangat kontras dengan pelanggaran hak asasi manusia dan perang yang brutal dan horor seperti yang dia dokumentasikan sepanjang film.

Al Kateab mengatakan, ia bertahan untuk tetap merekam kondisi di Aleppo. “Film ini menjadi alasanku untuk tinggal di sini, dan kurasakan sepadan dengan mimpi buruk yang kurasakan,” jelasnya.

For Sama memenangi sejumlah penghargaan internasional, seperti Prix L’Oeil d’Or untuk kategori best documentary pada Cannes Film Festival 2019, best documentary di Bafta 2020, meraih 4 penghargaan di British Independent Film Awards 2020, serta mendapatkan nominasi Oscar 2020 untuk best documentary feature. (H-3)
 

BERITA TERKAIT