24 September 2020, 21:45 WIB

Layanan Prima Pertamina 135 Ditengah Keterbatasan


Dwi Apriani | Humaniora

DIBALIK nada yang ramah, call center Pertamina 135 menyimpan sejuta rahasia. Sedikit yang tahu, dari puluhan operator yang melayani konsumen saat menghubungi Pertamina 135 ternyata bekerja dengan keterbatasan fisik (disabilitas).

Namun, jangan dilihat keterbatasan fisiknya, kegigihan mereka memberikan yang terbaik bagi konsumen Pertamina patut menjadi contoh. Hal itu tersirat dari telisik yang dilakukan wartawan mediaindonesia.com dengan video call dan voice call.

Salah satunya ialah Miata Oktavarina (28), sejak pukul 07.30 WIB, sudah tiba di pintu masuk utama Gedung Infomedia Nusantara, di Jalan Terusan Buah Batu No 33, Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat. Tempatnya bekerja melayani keluhan konsumen Pertamina melalui call center 135

Saat memasuki gedung tersebut, Miata pun mengikuti prosedur protokol kesehatan dengan mengecek suhu tubuh. Ini menjadi ritual setiap hari dimasa pendemi saat ini. Ruang kerjanya berada di lantai enam gedung tersebut. Setiba di meja kerja, Miata pun bergegas mengambil wudhu dan menunaikan ibadah Salat Dhuha.

“Kita semua yang kerja di call center Pertamina 135, kerja dengan pembagian jam kerja (shift), dan khusus untuk karyawati, jam masuk kita sesuai jam masuk kantor. Dan setiap pukul 07.30 WIB, saya sudah dikantor dan bersiap untuk melayani konsumen,” kata Miata.

Miata merupakan penyandang disabilitas, dimana terdapat tumor di area pipi dan rahang. Sejak Maret 2019, Miata sudah bergabung dengan Pertamina 135.

“Walau saya difabel dan menderita tumor seperti ini, saya tidak mau duduk di rumah dan bersedih. Karenanya setelah lulus kuliah, saya langsung kerja. Semula di pialang, namun karena sulit mencari nasabah maka saya berhenti. Sampai akhirnya saya pun mendapat informasi dari website penyandang disabilitas, dan saya pun melamar,” ujar lulusan Universitas Padjajaran jurusan administrasi keuangan itu.

Orang tua yang sudah pensiun dari kerja, menjadi penyemangatnya untuk tetap bekerja maksimal. Namun keterbatasan fisik, tidak membuatnya lemah. “Saya sudah terbiasa mendapat respon negatif yang memandang rendah fisik saya. Itu juga yang membuat saya semakin semangat ingin membuktikan bahwa saya bisa berprestasi dan kerja di perusahaan ternama,” ujarnya.

Menjadi bagian call center Pertamina 135 adalah kebanggaan baginya. “Meski saya hanya melayani konsumen via telepon, tapi Alhamdulillah sejauh ini saya bisa meng-handle semua keluhan dan permintaan konsumen. Dan sampai saat ini, semua respon dari konsumen baik,” jelas warga Coblong, Bandung itu.

Kegigihan Miata membuahkan hasil, kini dipercaya untuk meng-handle media sosial Pertamina. Miata pun mendapat berbagai prestasi, diantaranya best agent di Pertamina 135. Hal yang membuatnya lebih bahagia, yakni saat mendapat perhatian dari Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama dan Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati, beberapa waktu lalu.

“Saat mereka datang ke kantor, memang kami (penyandang disabilitas) mendapat perhatian dari mereka. Ini kebanggaan bagi saya. Saya juga diberi bantuan pengobatan secara gratis, termasuk operasi tumor yang sampai saat ini masih saya jalani,” kata dia.

Cita-cita terbesarnya adalah, bisa berangkat haji bersama kedua orang tuanya dari hasil pendapatannya bekerja di Pertamina 135.

Koleg Miata lainnya adalah Rendi Arul Sofyan (24), penyandang disabilitas yang tidak memiliki kaki bagian kanan. Dia sudah satu tahun lebih menjadi operator Pertamina 135.

“Saat SD (Sekolah Dasar) tahun 2007, saya mengalami kecelakaan terlindas truk. Betis saya remuk, sehingga harus diamputasi. Dulu pakai tongkat, tapi sekarang sudah dibantu kaki palsu,” ujar Rendi.

Meski mengandalkan kaki palsu untuk disemua kegiatannya, Rendi mengaku, tidak menghambat tugasnya. Lulusan SMK Muhammadiyah Bandung itu bertugas menerima telpon dari konsumen terkait informasi, permintaan produk, dan komplain.

“Awal menjadi call center di Pertamina 135 memang butuh adaptasi dengan produk. Tapi saat ini semuanya lancar. Memang sebelum di Pertamina 135, saya sudah memiliki basic pernah kerja di telemarketing perbankan dan asuransi,” jelasnya.

Dengan sikapnya yang mau mendengarkan dan suara yang lembut saat melayani konsumen, Rendi mampu bertahan sampai saat ini di Pertamina 135 dan berhasil menyabet predikat sebagai best agent. Di masa pandemi ini, Rendi mengakui, sempat mendapat pilihan dari manajemen untuk work from home.

Hanya saja, Rendi memilih untuk tetap bekerja seperti biasa namun dengan memenuhi standar protokol kesehatan. Ia tetap semangat bekerja, karena memang Rendi merupakan tulang punggung keluarga, sebab orang tuanya mengandalkan usaha jahit rumahan, sementara Rendi masih memiliki dua adik yang masih sekolah.

“Dengan kondisi fisik saya seperti ini, saya tidak ingin jadi beban orang tua. Karenanya saya bertekad bisa menghasilkan pendapatan untuk membantu keluarga dan menyekolahkan adik-adik saya,” ucap warga Ujungberung, Bandung itu.

Sementara itu, Supervisor Pertamina Call Center 135, Rikrik Mudzakir menyatakan ada delapan orang penyandang disabilitas dari total 80 operator yang ada di Pertamina 135. Mereka bertugas sebagai operator telpon, media sosial, dan delivery service.

Baca Juga: Kering Prestasi, Banyak Pemain Bintang Emoh Pindah ke MU

"Ada kategori cacat sejak lahir dan kecelakaan. Keterbatasan fisik mayoritas pada bagian kaki, tangan dan wajah. Semangat mereka patut diteladani,” ujar dia.

Mereka, ungkap Mudzakir, umumnya bandel tidak mau dianggap berbeda. Jadi memang menginginkan agar tugas mereka disamakan dengan karyawan normal.  mereka juga ingin membuktikan eksistansi kinerjanya.

Sebenarnya, kata Rikrik, Pertamina memberikan kelonggaran untuk penyandang disabilitas. Hanya saja, mereka tidak ingin dianggap berbeda dengan karyawan lain. Bahkan disaat pandemi pun, mereka tetap memilih untuk kerja dan melayani konsumen.

“Kita sudah tawarkan mereka untuk WFH dan kita beri toleransi namun mereka tetap ingin bekerja seperti hari normal. Rata-rata penyandang disabilitas di Pertamina 135 ini berprestasi dan mendapatkan promosi,” pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: 11 Ribu UMKM Banyuwangi Dapat Suntikan Modal

 

BERITA TERKAIT