24 September 2020, 23:05 WIB

Jangan Berharap Indonesia Bisa Maju


Sarah Nurlaily, Fungsional BPS Kabupaten Bogor, Mahasiswa Pascasarjana UI | Opini

DALAM Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional IV 2020-2024 disebutkan bahwa visi Indonesia adalah terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. 

Untuk mewujudkan visi tersebut, terdapat tujuh agenda pembangunan yaitu; pertama memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas. Kedua, mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan. Ketiga, meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Keempat, revolusi mental dan pembangunan kebudayaan. Kelima, memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar. Keenam, membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim. Ketujuh, memperkuat stabilitas politik, hukum, pertahanan dan HAM, dan transformasi pelayanan publik. 

Hal pertama yang diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah tersedianya data yang akurat. Itu supaya pembangunan yang dilakukan akan tepat sasaran. Pembangunan tanpa data akan menjadi sesuatu yang sia-sia.

Tak kenal maka tak sayang, pepatah yang sering terdengar di telinga kita. Sesuatu yang belum dikenal akan terasa asing. Seperti halnya dengan data. Orang menyebut data sebagai angka-angka. Secara umum, data dapat didefinisikan sebagai nilai (value) yang mempresentasikan deskripsi dari suatu objek atau peristiwa (irmansyah:2003). 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu dengan data, jumlah anggota keluarga, jumlah siswa per kelas, harga sembako, sampai data yang sedang happening yaitu data jumlah orang yang terpapar virus covid-19. Semua data menyajikan informasi agar kita mengetahui dan dapat menentukan langkah apa yang dapat dilakukan selanjutnya. 

Saat mengetahui data jumlah orang terpapar virus covid-19 yang diupdate setiap hari dan dengan kecendrungan selalu meningkat, kita dapat lebih berhati-hati dan menjaga diri. Caranya dengan memakai protokol kesehatan dan menjaga jarak saat di luar rumah dan tidak pergi bila tidak ada kepentingan yang mendesak.

Salah satu Lembaga Pemerintah yang mengurusi data adalah Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam UU No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik, disebutkan bahwa BPS adalah penyelenggara kegiatan statistik dasar baik melalui sensus, survei, kompilasi produk administrasi, dan cara lain sesuai perkembangan ilmu dan teknologi. 

Berdasarkan basis data kependudukan dan pencatatan sipil dari Kementerian Dalam Negeri, BPS melaksanakan sensus penduduk. Pada awal tahun, tepatnya pada 15 Februari-31 Mei 2020, sensus penduduk telah dilaksanakan secara daring. Penduduk dapat mengisi sendiri data kependudukan melalui www.sensus.bps.go.id. Kemudian BPS Kembali mengupdate data penduduk pada 1-15 September secara door to door

Sensus penduduk merupakan satu dari tiga sensus yang dilaksanakan oleh BPS yaitu sensus pertanian dan sensus ekonomi. Selain sensus, BPS juga melaksanakan survei-survei yang berkaitan dengan aspek sosial dan ekonomi seperti survei sosial ekonomi nasional (Susenas), survei angkatan kerja nasional (Sakernas), survei khusus neraca produksi (SKNP), dan masih banyak yang lainnya. 

Berbagai macam sensus dan survei tersebut bertujuan untuk mendapatkan data. Berbagai macam tahapan sebelum dilakukannya pengumpulan data mulai dari menentukan arah tujuan dan maksud dari pengumpulan data, menyiapkan instrumen, konsep definisi yang berstandar, metodologi penelitian, jumlah petugas, pelatihan petugas, dan direncanakan secara matang. 

Begitupun setelah data terkumpul, disusun sedemikian rupa agar menarik dan informatif bagi segenap konsumen data mulai dari pelajar, akademisi, stake holder, dan pemerintah. Data sebagai bahan evaluasi dan dasar perencanaan pembangunan. Data yang berkualitas menjadikan hasil pembangunan yang juga berkualitas. Begitu berharganya data, sampai data dapat dikatakan sebagai emas.

Manfaat data dapat dirasakan oleh kita semua. Jalan yang dibangun, sarana pendidikan (seperti sekolah, universitas), sarana kesehatan (seperti puskesmas, rumah sakit), sarana peribadatan, sarana ekonomi (seperti pasar, mal), sarana hiburan (taman, tempat rekreasi), sarana komunikasi (tower), semua berawal dari data. Kunci data berkualitas adalah partisipasi dari semua lapisan masyarakat. Dari kita untuk kita.
Indonesia adalah rumah kita. Kita ingin rumah yang nyaman untuk dihuni. 

Mengingat betapa pentingnya ada, maka salah satu langkah sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan sadar data. Kita sadar data karena cinta data. Baik penduduk maupun pelaku usaha, berikan data yang akurat dan terperinci pada situs maupun petugas yang berwenang. 

Saat melakukan pendataan, untuk mengurangi kejahatan siber dan pencurian data, petugas akan dilengkapi atribut, tanda pengenal, dan surat tugas. Di era yang serba digital ini, pemerintah juga manfaatkan media daring untuk kegiatan besar berupa sosialisasi mengenai kegiatan apa yang akan dilaksanakan, situs yang dapat diakses, maupun atribut dari petugas akan mendata. 

Masyarakat tidak perlu khawatir akan data yang telah diberikan. Mari sama-sama bergotong royong menyediakan data yang akurat untuk Indonesia Maju. Kalau bukan kita siapa lagi. 

BERITA TERKAIT