24 September 2020, 17:55 WIB

GeNose: Alat Deteksi Covid-19 Murah Berbasis Hembusan Nafas


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

UNIVERSITAS Gadjah Mada (UGM) mengembangkan alat deteksi covid-19 berbasis hembusan nafas yang dinamakan GeNose.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, alat itu memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan alat testing covid-19 lainnya yaitu biayanya lebih terjangkau dan membutuhkan waktu deteksi yang lebih singkat.

Deteksi virus menggunakan GeNose tidak membutuhkan laboratorium khusus, biaya alatnya pun cukup terjangkau yakni Rp40 juta untuk 100 ribu pemeriksaan. Berbeda dengan RT-PCR yang membutuhkan laboratorium dan mesin khusus yang harganya di atas Rp1 miliar.

“Kelebihan utama GeNose relatif lebih cepat dalam melakukan analisa pemeriksaan, sekitar 2 menit itu sesuatu yang menurut saya luar biasa. Dan satu lagi adalah masalah murahnya, karena banyak sekali keluhan, bahkan sampai hari ini baik Rapid Test apalagi PCR Test memang harganya cukup mahal karena PCR selain membutuhkan mesinnya, ada laboratorium khusus yang perlu dipakai,” kata Bambang dalam Public Expose GeNose, Kamis (24/9).

Di samping itu, menurut Bambang, ada dua fitur yang menonjol dari alat deteksi ini, yaitu non invasif sehingga tidak menimbulkan rasa tidak nyaman pada warga yang diperiksa, serta telah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Kalau rapid test perlu ditusuk, kalau PCR harus mengambil cairan dari tenggorokan dan hidung yang rasanya kurang nyaman, tapi dengan GeNose tinggal menghembuskan nafas saja, langsung diperiksa ke mesinnya. Kemudian alat ini menggunakan pendekatan terakhir dalam teknologi yaitu AI dan kehebatan dari AI adalah semakin dia mendapatkan data yang lebih banyak, maka mesinnya makin pintar. Jadi tingkat akurasi deteksi mesinnya menjadi semakin baik,” tuturnya.

Baca juga : Dukung Atasi Covid-19, PMI Terima Sumbangan Satu Unit Ambulans

Bambang pun mengaku Kemenristek/BRIN siap mendukung tim UGM dalam melakukan uji klinis tahap II, karena menurutnya, uji klinis merupakan tahapan yang membutuhkan banyak biaya dan upaya, serta memiliki banyak tantangan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Peneliti GeNose Kuwat Triyana menjelaskan bahwa cara kerja GeNose sangat sederhana yakni menganalisa pola dari nafas yang dihembuskan oleh manusia. Setiap orang yang akan diuji hanya perlu meniupkan nafas ke dalam sebuah kantong, kemudian kantong berisi udara tersebut akan disambungkan ke mesin untuk dianalisa.

“Saat bakteri/virus menginfeksi tubuh manusia, kemudian akan menghasilkan senyawa (Volatile Organic Compounds yang spesifik dan kalau dikeluarkan melalui nafas kemudian ditangkap oleh sensor di dalam GeNose, maka akan terjadi respon yang membentuk pola khas yang kemudian dianalisis menggunakan AI machine learning/deep learning yang sudah sangat standar,” jelasnya.

Anggota tim Peneliti GeNose Dian Kesumapramudya Nurputra menuturkan, dari uji klinis tahap I didapatkan bahwa akurasi alat ini bisa mencapai 96 persen.

Uji klinis dilakukan di RS Bhayangkara Polda DIY dan di RS lapangan khusus COVID-19 di Bambanglipuro, Bantul. Rencananya, uji klinis tahap II akan melibatkan 1.460 partisipan di Sembilan rumah sakit seperti RSUP Dr Sardjito, RS Akademik UGM, hingga RSUD Saiful Anwar Malang.

“Kami harapkan izin edar dari Kemenkes kalau semua prosuedur sudah didapatkan, sehingga sudah bisa masuk skala komersial pada akhir 2020,” tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT