24 September 2020, 17:53 WIB

Di Forum PBB, Gus Yahya : Tak Ada Lagi Dunia Islam Lawan Barat 


mediaindonesia.com | Internasional

BISA jadi ini pekan yang luar biasa bagi Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf. Setelah Rabu (23/9) kemarin menyampaikan presentasi tentang HAM di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dia dijadwalkan tampil untuk kedua kali dalam perhelatan yang sama, Jumat (25/9). 

Kali ini Gus Yahya, sapaan akrabnya, diminta menyampaikan visinya tentang Abrahamic Faiths Initiative (Prakarsa Agama-Agama Ibrahimiyah). Jika forum kemarin diprakarsai Departemen Luar Negeri AS, forum Jumat pagi 09.00 waktu New York atau pukul 20.00 WIB itu milik International Religious Freedom or Belief Alliance (Aliansi Internasional untuk Kemerdekaan Beragama dan Berkepercayaan). 

Aliansi internasional yang dibentuk pada 7 Februari 2020. Aliansi ini beranggotakan 27 negara yang berkomitmen kepada kebijakan-kebijakan untuk menjamin kemerdekaan beragama dan berkepercayaan, baik di dalam negeri masing-masing maupun di kancah internasional. Anggotanya antara lain Albania, Bosnia Herzegovina, Belanda, Republik Ceko, Inggris, Brasil, dan Kolombia.

Dalam forum tentang HAM itu, Gus Yahya menegaskan bahwa dunia Islam harus berintegrasi secara damai dan harmonis dengan masyarakat dunia seluruhnya. 

“Tidak boleh lagi ada persepsi persaingan, apalagi permusuhan, antara dunia Islam melawan dunia Barat atau lainnya. Saat ini kita sedang menyaksikan proses bergeraknya seluruh masyarakat dunia menuju terbentuknya satu peradaban global yang tunggal dan saling bercampur. Tanpa integrasi damai, yang akan terjadi pastilah konflik universal yang berbahaya sekali," kata mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini dalam keterangannya, Kamis (24/9). 

Untuk itu, lanjut Gus Yahya, masyarakat global membutuhkan konsensus tentang nilai-nilai keadaban bersama (shared civilisational values) sebagai basis integrasi.

Dia mengatakan, konsensus itu harus tercipta tidak hanya pada tingkat kepemimpinan politik atau pemerintahan saja, tapi harus sungguh-sungguh membumi di tingkat masyarakat atau akar rumput. 

Dengan demikian, ujarnya, maka aktor-aktor masyarakat sipil seperti organisasi-organisasi masyarakat yang independen harus diberi peran utama dalam rangka mengupayakan konsensus melalui gerakan sosial yang efektif.

“Besok saya kembali diminta menyampaikan visi tentang bagaimana Prakarsa Agama-agama Ibrahimiyah dapat menjadi salah satu komponen strategis dalam upaya membangun konsensus global itu," katanya. 

Menurut Gus Yahya, prinsip kemerdekaan beragama dan berkepercayaan, di samping merupakan salah satu elemen kunci yang dibutuhkan dalam konsesus, harus pula dibingkai dengan pemahaman yang jernih, konkret dan definitif tentang nilai-nilai apa saja yang bisa direngkuh bersama sebagai konsensus, serta perbedaan-perbedaan apa yang harus diterima secara toleran. 

“Pada satu titik, prakarsa agama-agama Ibrahimiyah bisa dan harus diperluas dengan menjangkau agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan di luar tradisi Ibrahimiyah. Secara keseluruhan, ini akan menjadi bingkai strategis untuk memperjuangkan perdamaian dunia melalui pendekatan keagamaan," tandas Gus Yahya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT