24 September 2020, 15:25 WIB

Survei Harvard: Orang Muda Cenderung Mempercayai Hoaks Korona


MI Weekend | Weekend

SURVEI baru yang dirilis oleh tim gabungan universitas bergengsi dunia menemukan jika orang yang lebih muda cenderung percaya dengan klaim palsu terkait dengan virus korona dibandingkan orang yang lebih tua. Tim tersebut terdiri dari peneliti Harvard University, Rutgers University, Northeaster University, dan Northwestern University, 
;
Dilansir dari ABC News (24/09), survei ini dilakukan terhadap 22.000 orang dari seluruh 50 negara bagian di Amerika Serikat. Survei ini dicetuskan karena banyak informasi yang salah seputar covid-19 yang menyebar secara daring.

Para peneliti menilai penerimaan responden terhadap 11 klaim palsu yang paling popular terhadap berita yang telah beredar di dunia maya sejak awal pandemi, termasuk klaim penyakit covid-19 disebabkan oleh manusia yang makan kelelawar. Survei ini dilakukan mulai dari 7 dan 26 Agustus 2020.

Peneliti menemukan bahwa orang di bawah usia 25 tahun memiliki kemungkinan 18% untuk percaya dengan klaim palsu, dibandingkan 9% orang diatas 65 tahun. Studi tersebut menyatakan pada 11 klaim palsu, peneliti menemukan pola yang sangat jelas: semakin tua kelompok usia, semakin rendah tingkat kepercayaan rata-rata pada klaim palsu.

Responden dalam kelompok usia 25 - 44 tahun memiliki kemungkinan sebesar 17% untuk percaya klaim palsu dan kelompok usia 45 - 64 tahun memiliki kemungkinan 12% untuk percaya klaim palsu. Para peneliti juga menemukan wawasan tentang beberapa klaim palsu yang paling dipercaya di antara berbagai kelompok umur.

Sekitar 28% responden di bawah usia 25 tahun percaya manusia awalnya tertular virus korona dengan makan kelelawar. Hanya 6% dari responden berusia 65 tahun atau lebih yang percaya dengan klaim palsu terkait kelelawar ini. Selain itu, 25% di bawah usia 25 tahun percaya bahwa virus itu dibuat di laboratorium senjata China dan bila mengkonsumsi antibiotik dapat melindungi dari vovid-19.

Temuan meresahkan lainnya adalah 24% dari yang berusia di bawah 25 tahun percaya bahwa hanya orang yang berusia di atas 60 tahun berisiko tertular virus korona. Kemudian, angka tersebut menjadi 12% di antara mereka yang berusia di atas 65 tahun.
 
Beberapa pihak juga menyalahkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang telah ikut menyebarkan klaim palsu terkait covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat merilis studi baru pada hari Rabu (23/09) yang menunjukan demografi orang yang terinfeksi covid-19 telah bergeser secara signifikan ke arah orang mudah dan menjauh dari orang dewasa yang lebih tua dalam beberapa bulan terakhir. (Yulia Kendriya Putrialvita/M-1)

BERITA TERKAIT