24 September 2020, 13:30 WIB

Pakar Statistik UGM Prediksi Pandemi Berakhir Tahun Depan


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

Guru Besar Statistika UGM Dedi Rosadi kembali menyampaikan prediksi terbaru kasus covid-19, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Menurutnya, berdasarkan tracking data terakhir dan menggunakan berbagai pendekatan pemodelan data driven (berbasis pergerakan data), terdapat kenaikan nilai proyeksi kasus positif di akhir pandemi yang cukup signifikan dibanding akhir Juli 2020 lalu.

Prediksi paling optimis diperoleh dengan menggunakan model hybrid kompartemen SIR Regresi runtun waktu diperkirakan pandemi akan berakhir di pertengahan Februari 2021 dengan total kasus positif minimal 322 ribu orang.

“Akhir pandemi sangat bergantung pada upaya pemerintah dalam mengendalikan laju penyebaran penyakit covid-19 ini,” kata Dedi dalam pernyataan tertulis, Kamis (24/9).

Baca juga: Waspadai Penyebaran Covid-19 di Rumah Sakit

Sementara itu, pada prediksi menggunakan model Probabilistic Data Driven Model (PDDM) covid-19 Indonesia yang disusun oleh Dedi Rosadi bersama Alumni FMIPA UGM, Joko Kristadi dan Fidelis Diponegoro, puncak pandemi akan terjadi di pertengahan November sampai awal Desember dan berakhir pada akhir Mei 2021 dengan estimasi total kasus positif sekitar 700 ribu penderita.

Sedangkan dengan tim lainnya, Dedi Rosadi melakukan kajian dengan pendekatan model kurva Richard dan kurva pertumbuhan logistik, yang menunjukkan proyeksi akhir pandemi berada di antara April 2021 sampai dengan awal 2022 dengan kisaran prediksi total penderita yang sangat mirip dengan hasil model SIR-Regresi dan PDDM di atas.

Lebih lanjut, dari pantauan kurva insidensi harian penderita terlihat bahwa penambahan jumlah pasien harian belum mencapai puncaknya. Sedangkan angka penularan saat ini (Rt) masih di atas 1 yakni bernilai 1.07 pada 23 September 2020. Namun demikian, dengan model SIR Regresi runtun waktu dapat disimpulkan terjadi sedikit peningkatan laju infeksi penyebaran penyakit yang dibarengi dengan peningkatan yang cukup tinggi terhadap laju kesembuhan pasien.

Berdasarkan prediksi tersebut, Dedi Rosadi menyampaikan sejumlah catatan penting yang patut menjadi perhatian bersama pada saat ini. Pertama, perlunya dilakukan pengendalian penyebaran covid-19 secara optimal dengan menggencarkan 3T yakni tracing, testing, dan treatment di episentrum utama Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sulawesi Selatan. Demikian pula di provinsi lain perlu juga dilakukan pengendalian penyebaran secara lebih optimal dengan lebih menggencarkan gerakan 3T.

“Secara nasional dalam jangka waktu dekat juga penting untuk dipantau secara seksama kemungkinan kemunculan klaster Pilkada yang muncul karena mobilitas penduduk mendukung proses kegiatan ini baik sebelum hari H maupun pada hari H kegiatan Pilkada,” paparnya.

Selanjutnya, perlunya meningkatkan kewaspadaan adanya penularan lokal di beberapa wilayah provinsi atau kabupaten yang menjadi episentrum penyebaran covid-19. Hal itu penting dilakukan mengingat angka perhitungan Rt (angka reproduksi/angka penularan) covid-19 Indonesia dalam beberapa hari terakhir masih disekitar 1,07.

“Penurunan laju penularan dapat dilakukan secara optimal dengan berbagai upaya. Utamanya dengan pendisiplinan masyarakat dalam menaaati protokol kesehatan khususnya penggunaan masker dan menjaga jarak, pengaturan mobilitas penduduk secara lebih berhati-hati dan pemberian vaksin massal. Di sisi lain, penemuan teknologi obat akan meningkatkan laju kesembuhan, sehingga secara bersama sama upaya-upaya tersebut akan dapat mengakhiri pandemi covid-19 secara lebih cepat,” tandasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT