24 September 2020, 06:40 WIB

Meski Resesi Kuartal III Membaik


M Ilham RA | Ekonomi

KOMITE Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 akan lebih baik jika dibandingkan dengan kuartal II-2020, meski dibayangi resesi atau pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut.

"Kuartal III, dari data yang kami kumpulkan, sudah pasti lebih baik daripada kuartal II," kata Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan PEN Raden Pardede dalam diskusi daring, kemarin.

Selasa (22/9), Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020 menjadi -1,7% hingga -0,6%. Perkiraan itu lebih dalam daripada taksiran pertumbuhan sebelumnya di kisaran -1,1% hingga 0,2%.

Koreksi proyeksi pertumbuhan itu berangkat dari perkiraan kondisi perekonomian nasional di kuartal III-2020 yang masih di zona negatif. Perbaikan diperkirakan baru akan terjadi hingga mendekati 0% di kuartal IV-2020.

Raden optimistis pertumbuhan negatif pada kuartal kedua itu merupakan yang terdalam dan akan membaik pada kuartal III-2020.

"Itu adalah satu catatan penting, kuartal kedua hit the bottom (terdalam), tinggal sekarang tugas kita bagaimana mempercepat pemulihan ini," kata Raden.

Pemerintah telah menggelontorkan stimulus penanganan covid-19 dan PEN (PC-PEN) sebesar Rp695,2 triliun yang diharapkan mendorong perekonomian. Dari total pagu anggaran PC-PEN itu, hingga 16 September 2020, total realisasinya mencapai 36,6% atau Rp254,4 triliun.

Ia memerinci alokasi untuk perlindungan sosial mencapai Rp134,45 triliun atau 60,6% dari pagu yang mencapai Rp203,9 triliun.

Sementara itu, realisasi yang masih berada di bawah 50%, per 16 September 2020, di antaranya insentif usaha yang baru terealisasi Rp22,23 triliun atau 18,43% dari pagu Rp120,61 triliun. Begitu juga dengan pembiayaan korporasi yang masih 0% dari pagu Rp53,6 triliun.

"Tanpa intervensi pemerintah, akan terjadi resesi luar biasa," imbuh Raden yang juga Tim Asistensi Menko Perekonomian itu.

Pasar keuangan

Di kesempatan berbeda, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyatakan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 yang dilakukan pemerintah merupakan sebuah langkah agar masyarakat dan dunia usaha bersiap diri dalam menghadapi situasi terburuk.

Tak hanya itu, revisi dilakukan pasar keuangan tak syok terhadap pengumuman resmi mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020.

"Jadi pasar harapannya sudah price in," ujarnya, kemarin.

Dari Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin sore ditutup di zona merah lantaran aksi ambil untung para investor.

IHSG ditutup melemah 16,14 poin atau 0,33% ke posisi 4.917,96. Adapun kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 2,2 poin atau 0,29% menjadi 754,18.

Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ditutup melemah 30 poin atau 0,2% menjadi 14.815 per dolar AS dari sebelumnya 14.785 per dolar AS. Hal itu dipicu komentar Presiden The Fed Chicago yang menyatakan suku bunga acuan bank sentral berpeluang naik. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT