24 September 2020, 03:04 WIB

Pemda Jamin HGU Perkebunan dari Klaim-Klaim demi Kepastian Investa


Sru/Try/S1-25 | Politik dan Hukum

INDONESIA masih memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembang investasi di sektor perkebunan, khususnya di industri kelapa sawit.

Salah satunya dikemukakan Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah (Kalteng), Rawing Rambang, yang menyebutkan bahwa potensi
investasi sawit di wilayahnya sangat besar dan dapat menambah pendapatan negara.

“Potensi kita luar biasa luas. Lahan komoditas perkebunan kurang lebih 2.015 681,68 hektare, yakni lahan sawit 1.778.000 hektare atau 10,8% dari luas lahan sawit di Indonesia. Jadi masih terbuka luas untuk dikembangkan komoditas lain, bisa kopi, kakao, atau komoditas yang lain,” jelasnya, Rabu (23/9).

Untuk menjaga serta mengembangkan potensi dan lahan yang ada, Pemerintah Provinsi Kalteng tidak menyingkirkan lahan kepemilikan masyarakat dan adat. Untuk itu, Dinas Perkebunan Kalteng selalu berkoordinasi dengan institusi lainnya untuk membuat terang klaim-klaim tersebut.

Di sisi lain, terkait investor yang telah memiliki HGU, pemerintah daerah akan memberikan jaminan dari klaim-klaim lahan. “Akan dijamin kenyamanan investasinya dengan melihat apakah klaim tanah adat ini memiliki landasan yang kuat dengan melihat proses kepemilikan HGU serta keterlibatan masyarakat dalam pembangunan, khususnya di sektor perkebunan,” ucapnya.

Di sisi lain, ekonom sekaligus Direktur Corporate Affairs Asian Agri, Fadhil Hasan, menyatakan untuk menarik investasi di industri sawit, pemerintah harus menyederhanakan perizinan. “Selain itu, antara pusat dan daerah dibutuhkan interpretasi yang sama. Terkadang antara itu (pusat dan daerah) suka ada beda (interpretasi). Sekarang itu ada sedang dibahas di dalam omnibus law. Saya kira itu sajalah,” kata Fadhil saat dihubungi, Selasa (22/9).

Fadhil menambahkan, pada 2020 industri minyak kelapa sawit mengalami pelambatan. Namun, penyebabnya lebih pada cuaca, yaitu fenomena El Nino yang menurunkan kualitas panen buah sawit.

Di samping itu, lantaran harga komoditas sawit yang masih rendah pada 2019 sebagai rentetan dari anjloknya harga sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional sejak akhir 2018. Akibatnya, para petani atau perusahaan melakukan berbagai efisiensi dengan mengurangi pemupukan sekitar 30% sampai 40%.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, sepanjang semester I/2020, produksi minyak sawit Indonesia dan turunannya sebesar 23,47 juta ton. Angka itu lebih rendah daripada produksi semester I 2019 yang tercatat sebesar 25,88 juta ton.

Namun, dia optimistis produksi akan kembali meningkat karena memasuki periode Agustus-Desember 2020 adalah musim panen raya.

Ia mengutarakan sebenarnya industri kelapa sawit masih bisa bertumbuh di tengah cobaan pandemi virus korona yang melanda hampir seluruh sektor industri.

Pada semester satu, diakui Fadhil, kegiatan ekspor di industri kelapa sawit sempat terpengaruh akibat distribusi yang terhambat dan permintaan drop di kala penularan covid-19 terjadi di seluruh negara.

Terkait hal itu, Media Indonesia menyelenggarakan webinar dalam program Indonesia Bicara dengan tema Kepastian berinvestasi di sektor
perkebunan, hari ini, pukul 14.00-16.00 WIB. Acara disiarkan langsung melalui Youtube Media Indonesia https://bit.ly/3kA49s6 dan Facebook Media Indonesia https://www.facebook.com/mediaindonesia/videos.

Acara ini menghadirkan narasumber pengamat ekonomi Fadhil Hasan, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah Rawing Rambang, dan Kepala Kanwil BPN Kalteng 2018/Kepala Kanwil BPN Sumsel 2020 Pelopor M, dengan dipandu oleh Ketua Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong. (Sru/Try/S1-25)

BERITA TERKAIT