24 September 2020, 01:15 WIB

Trump Soroti Korban Covid-19


Faustinus Nua | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengatakan jumlah kematian akibat covid-19 di AS, yang mencapai 200.000 orang, sangatlah memalukan. 

Bila tidak direspons dengan langkah yang menurutnya sudah tepat, mungkin korban kematian bisa bertambah hingga mencapai 2,5 juta jiwa.

“Saya pikir jika kami tidak melakukannya dengan baik dan melakukannya dengan benar, Anda akan memiliki 2,5 juta kematian,” kata Trump saat akan berangkat ke acara kampanye Pilpres AS di Pittsburgh, kemarin.

AS merupakan negara dengan angka kematian akibat covid-19 tertinggi di dunia, 60.000 kematian lebih banyak dari Brasil, yang berada di posisi kedua. Jumlah total kematian di AS hingga kemarin ialah 200.768 korban.

Pemerintah AS dikritik karena tidak bertindak lebih cepat dan tegas untuk menghentikan penyebaran virus sehingga menjadikan AS penyumbang hampir 6,9 juta dari 31,4 juta kasus di dunia. 

Ada kekhawatiran bahwa musim dingin yang akan datang akan menyebabkan virus menyebar lebih cepat. Namun, Trump sibuk menyalahkan Tiongkok, tempat virus itu muncul akhir tahun lalu.

“(Tiongkok harusnya) menghentikannya di perbatasan. (Mereka) membiarkan ini terjadi,” kata Trump.

Terpisah, Beijing menegaskan bahwa AS harus menghentikan segala tuduhan atas penyebaran dan penanganan pandemi terjadi Tiongkok. Perwakilan tetap Tiongkok untuk PBB, Zhang Jun menilai tuduhan AS merupakan politisasi virus yang tidak berdasar.

“Tiongkok menolak tuduhan AS. Tuduhan ini sangat tidak  berdasar. Kami ingin meningkatkan kepercayaan, bukan politisasi virus,”  ngkapnya menanggapi pidato Presiden AS dalam Sidang Umum PBB, kemarin.

Zhang Jun mengatakan arah politik luar negeri Tiongkok ialah mendukung multilateralisme dan mendukung PBB dalam upaya memerangi pandemi global. Langkah AS kemudian dinilai sebagai bentuk konfrontasi serius.


Wisatawan di Jepang

Jepang sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan lebih banyak pendatang asing ke negara itu mulai awal bulan depan.

Dalam upaya mencegah penyebaran covid-19, Jepang sebelumnya menerapkan pembatasan perjalanan paling ketat di dunia. Bahkan warga Jepang sendiri tidak dapat masuk kembali ke negara itu tanpa izin sebelumnya.

Pemerintah melonggarkan beberapa pembatasan pada pelajar dan pebisnis dari tujuh negara pada akhir Juli. Di bawah proposal terbaru, Jepang akan mengizinkan mereka yang tinggal lebih dari tiga bulan, seperti pelajar dan pekerja medis untuk masuk dari negara mana pun meski dibatasi hingga 1.000 orang sehari.

Jepang sejauh ini berhasil menjaga infeksi dan kematian pada tingkat yang relatif rendah dengan kumulatif 79.900 infeksi dan 1.519 kematian. Sementara itu, India kemarin melaporkan penghitungan harian terendah untuk kasus infeksi covid-19 dalam hampir sebulan. 

Negara itu juga sedang bersiap untuk uji klinis dari vaksin asal Rusia dalam beberapa pekan ke depan. Data kesehatan federal menunjukkan munculnya 75.083 kasus baru dan 1.053 kematian untuk periode yang sama.

Total tercatat 5,6 juta kasus di negara itu, kedua setelah AS, sedangkan total korban meninggal di India mencapai 88.935 orang. (AFP/Hym/X-11)
 

BERITA TERKAIT