23 September 2020, 17:49 WIB

Kapasitas ICU Menipis, Anies Perlu Segera Tekan Kasus Covid-19


Hilda Julaika | Megapolitan

DINAS Kesehatan (Dinkes) melaporkan ketersediaan tempat tidur perawatan intensif/ICU untuk pasien covid-19 semskin menipis. Dari jumlah tempat tidur ICU sebanyak 658 yang tersebar di 67 rumah sakit (RS) rujukan covid-19, keterpakaiannya sudah mencapai 79%. Artinya tersisa 21% kapasitas lagi.

Menurut Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDI-Perjuangan Gilbert Simanjuntak, Gubernur Anies Baswedan sudah harus serius menekan angka kasus covid-19. Selain melakukan penambahan kapasitas ruangan ICU.

"ICU penuh adalah hasil sekunder/dampak/hilir dari upaya pencegahan yang tidak optimal. Artinya selain menambah tempat tidur atau menambah tempat/gedung, yang paling tepat adalah mengurangi jumlah penderita (kasus covid-19," kata Gilbert saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (23/9).

Lebih lanjut Gilbert memaparkan, Anies dan Pemprov DKI Jakarta bisa melacak dari data pasien yang dirawat karena covid-19. Untuk selanjutnya dilakukan pengawasan pada daerah yang menyumbang korban atau pasien covid-19.

Baca juga : Anies Sebut 5,5 Juta Ispa di DKI Karena Polusi Udara

"Data asal penderita, berupa demografi bisa digunakan untuk memetakan daerah yg perlu diawasi," imbuhnya.

Ia melihat meningkatnya keterisian kapasitas rumah sakit ini lantaran masih banyak masyarakat yang tidak disiplin. Sehingga pelacakan sangat diperlukan terutama pada wilayah-wilayah yang memang rawan dan berbahaya.

"Penularan yang berdampak tingginya bed occupancy rate/bor ICU, adalah bukti masih banyaknya orang tidak disiplin. Kalau disiplin, seperti tenaga kesehatan di RS Sulianti Saroso, Persahabatan dan Wisma Atlet, sudah 6 bulan di daerah yang sangat hitam/infeksius nyatanya bisa terhindar," ungkapnya.

Sementara itu, pihaknya tak menampik untuk menambah kapasitas ICU membutuhkan waktu dan dana yang tak murah. Karena tak sekedar menyiapkan ruangan saja dan tempat tidur. Melainkan harus ada peralatan kesehatannya, biaya, tenaga medis yang terdidik khusus ICU, hingga Standar Operational Procedur (SOP) yang jelas.

"Ya. Alat ventilatornya saya yakin tidak ada, karena keuangan DKI juga tidak mampu saat ini untuk membelinya sekaligus membangun ICU. Membangun ICU juga butuh waktu dan dana besar terutama untuk peralatan dan mendidik tenaganya. Makanya harus ditekan angka penderitanya yang paling utama," kritiknya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT