23 September 2020, 17:45 WIB

Geliat di Masa Covid-19, Industri Manufaktur Berpeluang Bangkit


mediaindonesia.com | Ekonomi

SETALAH terpuruk sejak 2008 yang ditandai dengan menurunnya kontribusi terhadap GDP, sektor industri manufaktur nasional memiliki kesempatan bangkit justru di saat masa pandemi Covid 19, karena beralihnya selera pasar masyarakat yang lebih cenderung menyukai produk-produk lokal.

“Hasil survei Mckinsey menunjukkan 69 responden cenderung menggunakan produk lokal selama masa pandemi,” ungkap Dr. Mukhaer Pakkana, S.E., M.M., Rektor Institut Tekhnologi dan Bisnis Ahmad Dalam, Jakarta, dalam webinar bertema Strategi Menyelamatkan Industri Manufaktur di Tengah Kondisi Pandemi Covid-19, Rabu (23/9).

Dalam seminar yang digelar atas kerjasama Pusat Studi Kajian Sosial dan Politik (PKSP) Universitas Nasional, Jakarta, dengan Center for Information and Development Studies (CIDES) itu, Mukhaer mengemukakan kontribusi industri manufaktur Indonesia terus berkurang dari 28% pada 2008 dan puncaknya pada 2019 hanya sebesar 17%.

Pemicunya, menurut dia, di antaranya karena pelarian industri yang sebelumnya beroperasi di suatu area; hilangnya daya saing, tenaga kerja trampil dan pelarian modal; serta perubahan pola belanja masyarakat dari barang (commodity) ke jasa (pleasure).

Kecenderungan merosotnya kontribusi industri manufaktur, jelas Mukhaer, juga bisa dilihat dari angka Purchasing Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 28,55% pada triwulan II-2020 turun dari 45,64% pada triwulan I-2020 dan 52,66% pada triwulan II-2019.

Karenanya, Rektor Institut Tekhnologi dan Bisnis Ahmad Dahlan itu menyarankan pemerintah untuk melakukan pribumisasi industri dengan mengedepankan kebijakan Inward Looking Economi, dan menerapkan teologi produksi yang mengurangi ketergantungan impor dan mengembangkan produk lokal.

“Kembangkan ekonomi “Dari Kita, Oleh Kita, dan Untuk Kita” dengan berbasis Communiy Marketplace,” usul Mukhaer.

Ia menyarankan pemerintah mengoptimalkan instrumen lembaga keuangan lokal berdasarkan local wisdom, seperti koperasi, LKM, kelompok arisan, dan sebagainya.

Untuk mengganti ketergantungan pada produk-produk impor, Mukhaer menyarankan dilakukan pengembangan industri substitusi impor karena bisa menghemat devisa, dan juga sudah banyak industri substitusi impor nasional yang kualitas produksinya tidak kalah dengan produk impor.

Mukhaer merinci ada 7 (tujuh) sektor yang potensial mendorong substitusi impor, yaitu: elektronik, otomotif, kimia, makanan dan minuman, tekstil dan busana, farmasi, dan alat kesehatan (alkes). “Pemerintah harus mendorong kapasitas dan permintaan dalam negeri untuk produk lokal,” tutur Mukhaer.

Optimistis

Sementara Manufacturing Director PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk. Lilik Unggul Raharjo, dan Business Development Indonesia Packaging Federation (IPF) Ariana Susanti yang tampil dalam webinar tersebut menyampaikan optimisme dalam menghadapi masa depan industri manufaktur di tanah air.

"Seperti kebanyakan negara pandemi Covid 19 telah menurunkan proyeksi GDP masing-masing negara, tetapi kami optimistis industri manufaktur akan kembali tumbuh di 2021,” jelas Lilik.

Adapun Ariana Susanti menyampaikan, bahwa di masa pandemi Covid 19 justru industri packaging menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Hal ini tidak terlepas dari berkembangnya ekonomi digital di masa pandemi Covid 19 ini.

"Porsi ekonomi digital Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara pada 2025, diproyeksi mencapai 133 miliar dollar AS atau Rp1.826 triliun,” terang Ariana seraya menambahkan adanya perkembangan pada ekonomi digital itu telah memberikan berkah pada berkembangnya industri packaging di tanah air.

Webinar yang dipandu oleh Ade Algifari ini juga menampilkan narasumber Drs. Rusman, M.Si., M.M., dari Universitas Nasional, Jakarta.(OL-13)

Baca Juga: SKK Migas dan Kontraktor Targetkan 1 Juta Barel Minyak per Hari

BERITA TERKAIT