23 September 2020, 13:48 WIB

Ini Tantangan Penambahan Pembangkit Energi Baru Terbarukan


Despian Nurhidayat | Humaniora

PEMERINTAH berencana untuk terus menambah pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Seperti terdapat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero), rencana tambahan EBT tahun 2019-2028 sebesar 16,7 Gigawatt (GW).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menyebut dari rencana tersebut terdapat beberapa tantangan untuk menambah pembangkit EBT di Tanah Air.

Baca juga: Kondisi Stabil, Menag Akan Jalani Swab Lanjutan Jumat

"Harga energi baru terbarukan relatif cukup tinggi dibandingkan pembangkit konvensional yaitu pembangkit tenaga batu bara. Kemudian, pembangkit EBT yang bersifat intermittent yaitu PLTS dan PLTB Bio memerlukan kesiapan sistem untuk menjaga kontinuitas pasokan tenaga listrik. Itu diharapkan teknologi dari sistem penyimpanan bisa dapat mendukung ini ke depan," ujar Arifin dalam Webinar PLN International Conference, Rabu (23/9).

Selain itu, Arifin menyebut, pembangkit EBT yang least cost dan capacity factor nya bagus seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro (PLTM) Hidro, dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) umumnya terletak di daerah yang jauh dari pusat beban.

"Jadi, membutuhkan waktu relatif lebih lama dalam pembangunan antara lain menyangkut terkait perizinan, kendala geografis dan keadaan yang kritis," pungkasnya.

Selain itu, pengembangan pembangkit biomasa maupun biogas juga memerlukan jaminan pasokan feedstock selama masa operasi. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT