23 September 2020, 13:26 WIB

Jokowi Ingatkan Dampak Lanjutan dari Ketegangan AS-Tiongkok


Faustinus Nua | Internasional

PRESIDEN Indonesia Joko Widodo menggunakan pidato pertamanya di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu (23/9) untuk memperingatkan bahwa stabilitas dan perdamaian global dapat dihancurkan jika persaingan geo-politik terus meningkat.

"Perang tidak akan menguntungkan siapa pun. Tidak ada gunanya merayakan kemenangan di antara reruntuhan. Tidak ada gunanya menjadi kekuatan ekonomi terbesar di tengah dunia yang sedang tenggelam," kata Jokowi, Rabu (23/9).

Baca juga: Anwar Ibrahim Klaim Didukung Parlemen untuk Bentuk Pemerintahan

Komentarnya muncul saat ketegangan antara AS dan Tiongkok meningkat, termasuk di Laut China Selatan. Beijing mengklaim kedaulatan atas sebagian besar Laut China Selatan. Namun, Washington dan beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan mengutip ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut PBB menolak klaim tersebut.

Awal bulan ini, pemerintah Indonesia melakukan protes ketika kapal penjaga pantai Tiongkok memasuki perairan Natuna. Insiden tersebut adalah yang terbaru dari beberapa serangan Tiongkok pada tahun lalu.

"Prinsip Piagam PBB dan hukum internasional seringkali diabaikan, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah," kata Jokowi kepada PBB.

Jokowi mengatakan pandemi virus korona adalah masa persatuan global. Sehingga, kerja sama untuk memerangi pandemi menjadi kunci kekuatan global di masa sulit ini.

"Apa yang kami lihat, sebaliknya, adalah salah satu divisi yang dalam dan persaingan yang berkembang," katanya.

"Jika perpecahan dan persaingan terus berlanjut, maka saya khawatir pilar stabilitas dan perdamaian berkelanjutan akan runtuh atau bahkan (dihancurkan)."

Bahaya ketegangan AS-Tiongkok juga diangkat oleh presiden Filipina Rodrigo Duterte. Filipina memiliki klaim tumpang tindih dengan Tiongkok di Laut China Selatan.

"Mengingat ukuran dan kekuatan militer para pesaing, kami hanya bisa membayangkan dan terkejut dengan korban jiwa yang mengerikan dan harta benda yang akan ditimbulkan jika 'perang kata' memburuk menjadi perang senjata nuklir dan rudal yang sebenarnya," ungkapnya kepada sidang umum PBB.

Ketegangan AS-Tiongkok telah menjadi topik penting dalam Sidang Umum PBB tahun ini yang menandai hari jadinya ke-75. Kedua negara terlibat dalam berbagai perselisihan serius mulai dari masalah perdagangan, pandemi hingga sengketa Laut China Selatan.(van/CNA)
 

BERITA TERKAIT