23 September 2020, 09:15 WIB

Kematian Akibat Covid-19 di AS Lampaui Angka 200 Ribu


Faustinus Nua | Internasional

KEMATIAN akibat covid-19 di Amerika Serikat (AS) melampaui angka 200 ribu pada Selasa (22/9). Angka itu menjadi yang tertinggi di dunia dan telah mencapai ambang batas enam minggu menjelang pemilihan presiden. Karenanya, perlu adanya referendum sebagian terkait penanganan krisis dari Presiden Donald Trump.

"Sungguh tidak terduga bahwa kita telah mencapai titik ini," kata Jennifer Nuzzo, peneliti kesehatan masyarakat Universitas Johns Hopkins, delapan bulan setelah wabah pertama kali mencapai negara terkaya di dunia itu, yang memiliki laboratorium mutakhir, ilmuwan top, dan persediaan medis memadai.

Jumlah kasus kematian di AS setara dengan korban serangan 9/11 setiap hari selama 67 hari. Angka itu kira-kira sama dengan populasi Salt Lake City atau Huntsville, Alabama. Dan masih akan terus meningkat.

Baca juga: 64 Negara Kaya Gabung Program Distribusi Vaksin WHO

Kematian rata-rata mendekati 770 per hari dan model yang banyak dikutip dari University of Washington memperkirakan jumlah korban di AS akan berlipat ganda menjadi 400 ribu pada akhir tahun.

Hal itu akan terjadi bila sekolah dan perguruan tinggi dibuka kembali dan cuaca dingin mulai masuk.

"Gagasan tentang 200 ribu kematian benar-benar sangat serius, dalam beberapa hal mencengangkan," kata Anthony Fauci, pakar penyakit menular utama pemerintah.

Tonggak sejarah yang suram dilaporkan Johns Hopkins, berdasarkan angka yang diberikan otoritas kesehatan negara bagian.

Tetapi, jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Hal itu lantaran banyak kematian akibat covid-19 mungkin disebabkan penyebab lain, terutama di masa awal, sebelum pengujian meluas.

Dalam sebuah wawancara pada Selasa (22/9) dengan sebuah stasiun TV Detroit, Trump sesumbar melakukan pekerjaan yang luar biasa melawan covid-19.

Dalam pidato yang direkam sebelumnya pada pertemuan virtual Majelis Umum PBB, dia menuntut agar Beijing bertanggung jawab karena telah membiarkan wabah itu melanda dunia.

Duta Besar Tiongkok menolak tuduhan itu sebab dinilai tidak berdasar. Di Twitter, kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden mengatakan angka kematian tidak seharusnya seburuk itu.

"Itu adalah angka yang mengejutkan yang sulit dipahami. Ada korban jiwa yang menghancurkan akibat pandemi ini dan kita tidak bisa melupakannya," ungkapnya.

Selama lima bulan, AS telah menjadi nomor 1 dunia untuk jumlah infeksi covid-19 dan kematian. Pada Selasa (22/9) dilaporkan hampir 6,9 juta kasus secara total.

AS memiliki kurang dari 5% populasi dunia tetapi lebih dari 20% kematian yang dilaporkan.

Brasil berada di urutan kedua dengan sekitar 137.000 kematian, diikuti India dengan sekitar 89.000 dan Meksiko dengan sekitar 74.000.

Hanya lima negara, yakni Peru, Bolivia, Cile, Spanyol, dan Brasil yang memiliki peringkat lebih tinggi dalam kematian per kapita covid-19.

"Semua pemimpin dunia menjalani ujian yang sama dan beberapa berhasil dan beberapa gagal. Dalam kasus negara kami, kami gagal total," kata Cedric Dark, dokter darurat di Baylor College of Medicine di Houston.

Orang kulit hitam, Hispanik dan Indian Amerika telah berkontribusi pada jumlah kematian yang tidak proporsional. Hal itu menggambarkan kesenjangan ekonomi dan perawatan kesehatan di AS.

Di seluruh dunia, virus telah menginfeksi lebih dari 31 juta orang dan mendekati 1 juta kematian, dengan hampir 967.000 nyawa hilang, menurut hitungan Johns Hopkins, meskipun angka sebenarnya diyakini lebih tinggi karena kesenjangan dalam pengujian dan pelaporan. (OL-1)

BERITA TERKAIT