23 September 2020, 06:00 WIB

Normalisasi Israel Langkah Menuju Perdamaian


(Van/CNA/I-1) | Internasional

RAJA Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa pada hari Senin (21/9) mengatakan bahwa langkah negara itu untuk menjalin hubungan dengan Israel tidak ditujukan terhadap entitas atau kekuatan apa pun. Akan tetapi, bertujuan untuk mewujudkan perdamaian yang komprehensif di Timur Tengah.

"Penandatanganan deklarasi ini merupakan langkah bersejarah menuju perdamaian komprehensif di Timur Tengah," kata Al Khalifa dalam sebuah rapat kabinet, dilaporkan dari kantor berita Bahrain News Agency.

Menurutnya, perjanjian dengan Israel sejalan dengan "Visi Bahrain untuk mencapai perdamaian komprehensif sebagai sebuah opsi strategis."

Raja menegaskan kembali dukungan Bahrain untuk Palestina dan untuk prakarsa perdamaian Arab yang dibuat pada tahun 2002. Menurutnya, hal itu menawarkan hubungan normalisasi Israel dengan imbalan kesepakatan kenegaraan dengan Palestina dan penarikan penuh Israel dari wilayah tersebut.

Dalam sebuah pernyataan setelah rapat kabinet, Raja mengatakan dia bangga dengan dukungan luas Arab dan internasional atas langkah Bahrain.

Bahrain dan Uni Emirat Arab menjadi negara Arab pertama dalam seperempat abad yang menormalkan hubungan dengan Israel. Namun, tanpa ada penyelesaian sengketa Israel dengan Palestina, dalam penataan kembali strategis negara-negara Timur Tengah melawan Iran.

Kesepakatan itu menyerukan hubungan diplomatik penuh, tetapi menghindari istilah normalisasi.

"Toleransi dan hidup berdampingan menentukan identitas asli Bahrain. Langkah kami menuju perdamaian dan kemakmuran tidak ditujukan terhadap entitas atau kekuatan apa pun, melainkan demi kepentingan semua orang dan bertujuan untuk bertetangga yang baik," kata Raja Hamad, dikutip BNA.

Adapun, protes jalanan pecah di Bahrain sejak menandatangani perjanjian dengan Israel awal bulan ini. Bahrain adalah satu-satunya negara Teluk Arab yang menyaksikan pemberontakan prodemokrasi yang cukup besar pada tahun 2011, yang dibatalkan dengan bantuan Saudi dan Emirat. Negara yang diperintah Suni itu menuduh Syiah Iran mendukung subversi, tuduhan yang dibantah Iran. (Van/CNA/I-1)

BERITA TERKAIT