23 September 2020, 03:50 WIB

50% Pria Disfungsi ereksi, tapi tidak Menyadarinya


Atalya Puspa | Humaniora

DISFUNGSI ereksi nyatanya lebih sering terjadi pada pria. Dari hasil studi diketahui ada 52% pria berusia 40 tahun-70 tahun yang mengalami disfungsi ereksi, tapi hanya 50% yang memahami tanda dan gejalanya.

Dokter spesialis urologi RSUPN Cipto Mangunkusumo, Widi Atmoko, menjelaskan ereksi adalah mengerasnya penis karena rangsangan. Peristiwa itu melibatkan pembuluh darah, saraf, dan otot penis.

Disfungsi ereksi terjadi saat penis tidak mampu untuk mencapai ereksi atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seksual.
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan disfungsi ereksi. Pertama, faktor psikogenik, yakni sejauh mana kondisi psikis pria memengaruhi ereksi.

"Disfungsi ereksi juga bisa dialami pria produktif 20-30 tahun apabila mengalami stres pekerjaan, sekolah, ada masalah dengan istri, itu bisa memengaruhi performa ereksinya," kata Widi saat Instagram live RSCM Kencana, Senin (21/9).

Selain psikogenik, sambung Widi, ada juga faktor organik, yakni adanya kelainan anatomi, hormonal, sistem saraf, atau sistem pembuluh darah. Pun faktor-faktor seperti riwayat sakit gula, hipertensi, dan kolesterol masuk ke golongan ini. Lalu, faktor ketiga yang bisa menyebabkan disfungsi ereksi ialah kombinasi psikogenik dan organik.

"Penyebab atau mekanismenya tidak hanya satu hal, kita harus tanyakan detail. Kita carikan riwayatnya seperti apa, bagaimana aktivitas seksualnya. Bagaimana foreplay-nya, bagaimana menjalani hubungan seksual dengan pasangan, bagaimana riwayat psikoseksualnya," bebernya.

Jika diagnosis disfungsi ereksi sudah ditegakkan, pasien akan diberikan sejumlah terapi, diawali dengan melakukan rigiscan, yakni mengetes fungsi ereksi selama pasien tertidur.

"Selanjutnya, terapi dengan obat. Tujuannya untuk memberikan suplai darah ke daerah penis  lebih besar. Jadi menstimulasi supaya aliran di penis cukup besar," ungkap Widi.

Apabila tidak berhasil, akan dilakukan treatment lain seperti pompa vacuum, electro shock therapy, dan pemasangan implan pada penis. "Kenali gejala disfungsi ereksi. Sejumlah faktor bisa diminimalkan. Seperti gaya hidup, tidak aktif olahraga, merokok, ini bisa memengaruhi ereksi," tandasnya. (Ata/H-2)

BERITA TERKAIT