23 September 2020, 04:10 WIB

Indonesia akan Gelar Uji Klinis II Vaksin Buatan Korsel


Uta/Hym/Ant/Bernama/X-7 | Humaniora

INDONESIA akan melakukan uji klinis tahap II terhadap calon vaksin covid-19 yang dibuat Genexine Inc, perusahaan farmasi asal Korea Selatan (Korsel), pada Oktober mendatang.

“Pengujian vaksin tersebut merupakan bentuk kerja sama antara Indonesia dan Korsel dalam memerangi covid-19. Sejauh ini, pengembangan vaksin buatan Genexine telah mendekati akhir uji klinis tahap I yang berlangsung di Korsel,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, kemarin.

Genexine mengembangkan calon vaksin covid-19 yang disebut GX 19. Untuk uji klinis di Indonesia, perusahaan itu menggandeng PT Kalbe Farma Tbk.

Calon vaksin itu menggunakan material DNA untuk menciptakan sistem kekebalan tubuh.

Dalam rapat tersebut, Menlu Retno juga menyebutkan bahwa pemerintah telah mengamankan 20 juta-30 juta dosis calon vaksin covid-19 pada 2020 dan 290 juta-340 juta dosis vaksin pada 2021.

“Indonesia akan mendapatkan vaksin sejumlah 20% dari jumlah penduduk atau 53,6 juta vaksin,” tambah Retno.

Selain Genexine, G42, Sinovac, dan Sinopharm, Retno menyebut Indonesia masih menjajaki peluang kerja sama pengadaan calon vaksin covid-19 buatan AstraZeneca dan Imperial College London.

Sementara itu, sebuah aliansi yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sebanyak 156 negara bergabung dalam skema global distribusi vaksin covid-19 yang adil, tetapi tanpa keikutsertaan Tiongkok dan Amerika Serikat.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang telah mengamankan pasokan vaksin covid-19 masa depan melalui kontrak bilateral, menuai tuduhan sikap egois yang merugikan negara-negara miskin.

Tiongkok juga tidak tercantum dalam daftar 64 negara kaya yang tergabung dalam rencana yang disebut COVAX untuk menyalurkan 2 miliar dosis vaksin di seluruh dunia pada akhir 2021.

Nantinya, para tenaga medis dan orang-orang yang rentan menjadi prioritas dalam penyaluran tersebut. “COVAX akan memberi dunia portofolio calon vaksin terbesar dan paling beragam,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi virtual, Senin (21/9).

Secara terpisah, dalam pertemuan tingkat tinggi PBB yang berlangsung secara virtual, Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin meminta, jika telah ditemukan, vaksin covid-19 harus dapat diakses semua bangsa dan masyarakat.

“Kita harus ingat, covid-19 tidak mendiskriminasi, respons kita juga tidak boleh diskriminatif,” ucapnya seperti dilansir NST. (Uta/Hym/Ant/Bernama/X-7)

BERITA TERKAIT