23 September 2020, 02:30 WIB

Sentimen Covid-19 dan Fincen Pukul Bursa


FETRY WURYASTI | Ekonomi

INDEKS harga saham ga bungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapat tekanan besar seiring dengan sentimen covid-19 yang makin meningkat di level domestik dan global.

IHSG makin mendapat tekanan akibat adanya sentimen negatif terhadap sektor perbankan sehubungan terbongkarnya dokumen Financial Crimes Enforcement Network (Fincen) yang melibatkan perbankan nasional dan global.

Terdapat 19 bank yang tercatat telah melakukan transaksi janggal terekam dalam dokumen Fincen Files terjadi di Indonesia. Total jumlah transaksi tersebut sebanyak 496 transaksi yang terekam sejak Februari 2013 hingga 3 Juli 2017.

IHSG akhirnya ditutup di level 4.934 atau turun 1,31 dengan didorong pelemahan sektor agriculture (-2,5%) dan finance (-1,97%). Vice President Samuel Sekuritas, Muhammad Alfatih, mengatakan masalah Fincen itu harus dihadapi otoritas dengan serius.

Secara global sudah dibuat berbagai ketentuan untuk memerangi pencucian uang dan transaksi ilegal. “Harus dicari oknum yang bertanggung jawab agar isu ini tidak melebar, dan secepatnya agar komunitas inter nasional kembali kepercayaannya terhadap sistem perbankan nasional,” kata Alfatih, dihubungi kemarin.

Saat ini ada investor yang melihat isu ini serius sehingga cenderung mengurangi portofolionya hingga ada kejelas an. Di sisi lain, kondisi covid-19 masih mencekam, akan mengancam NPL dan akhirnya menjadi bottom line dari sektor perbankan ini.

“Sehingga memang sektor ini mendapat tekanan jual. Tapi nanti jika valuasi dianggap murah, tentu investor mu lai mengoleksi kembali saham-saham sektor ini,” tegasnya.

Berikan bantahan

Beberapa bank telah mengeluarkan bantahan terhadap isi dokumen yang dikeluarkan Fincen. Senior Executive Vice President (SEVP) Corporate Relation Bank Mandiri Rohan Hafas menuturkan, pihaknya telah menerapkan good corporate governance (GCG) dan sesuai aturan yang ada. “

Bank Mandiri 100% menerapkan GCG dan meng ikuti ketentuan otoritas dalam ne geri termasuk ketentuan PPATK. Hingga saat ini tidak ada permohonan permintaan data transaksi sebagaimana dimaksud,” ungkap Rohan kepada Media Indonesia, kemarin.

Dalam laporan Fincen, Bank Mandiri melakukan transaksi janggal sebesar 111, aliran keluar US$250,39 juta, dan aliran masuk US$42,33 juta. “Karena pemberitaan ini ka mi proaktif akan segera me nyurati Fincen untuk meminta keterangan atau data,” kata Rohan.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja juga membantah laporan soal adanya dana janggal. Ia mengklaim pihaknya telah jalan sesuai aturan. “BCA selalu mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang perbankan dan Antipencucian Uang serta Pembiayaan Terorisme (APUPPT),” kata Jahja.

Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memastikan seluruh transaksi bank telah mengikuti aturan yang berlaku. Ketua Himbara Sunarso mengatakan dengan dukungan sistem yang andal, bank-bank Himbara senantiasa berkomitmen untuk memenuhi kewajib an pelaporan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami memastikan bahwa seluruh transaksi perbankan mengikuti ketentuan baik Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan PPATK, serta selaras dengan international best practices dari Financial Action Task Force on Money Laundering,” tandas Sunarso. (Des/Ins/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT