23 September 2020, 00:10 WIB

Tasya Kamila Gaya Hidup Ramah Lingkungan


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

DUTA Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan penyanyi Tasya Kamila, 27, membagikan caranya menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable lifestyle) bagi anak muda. 

Tasya mengatakan, mengurangi berbelanja secara berlebihan merupakan langkah awal yang baik. “Pertama, kita coba kurangi dulu sampah kita, beli barang secukupnya, jangan sampai mubazir. Lalu, ketika berbelanja, pilih barang dengan packaging yang lebih ringkas, serta sebisa mungkin hindari plastik sekali pakai,” kata Tasya dalam webinar Peluncuran Dropbox Sampah Kemasan yang digelar daring, kemarin.

Program 3R yang mencakup reduce (mengurangi konsumsi barang berlebihan), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang), lanjut Tasya, menjadi dasar dari gaya hidup ramah lingkungan.

“Sampah itu harus dikurangi karena bagaimana pun bumi ini kita, anak muda yang akan menjalani hari ini dan nanti. Untuk itu, kita jadi orang jangan mubazir karena itu akan menjadi sampah,” terangnya.

Pelantun Libur telah Tiba tersebut menambahkan, ia sebisa mungkin menghindari penggunaan kemasan dan peralatan sekali, pakai seperti botol dan sendok plastik. Sebagai ganti, ia mengakali dengan menggunakan tumbler dan perlengkapan makan sendiri yang bisa dibawa dan dipakai berulang kali.

Selain memperhatikan peralatan sehari-hari, Tasya juga mulai memilah sampah sesuai kategorinya. Jika memiliki sampah organik, ia menyarankan untuk dibuat kompos.

“Tapi, buat kita-kita yang enggak kreatif amat (untuk melakukan daur ulang sampah), kita bisa memilah sampah yang nantinya kita salurkan ke bank sampah, agar dikelola dan didaur ulang dengan baik oleh mereka yang lebih jago mengelolanya,” kata Tasya.


Tanggung jawab

Tasya mengaku, ia telah sangat familier dengan isu lingkungan dan gaya hidup berkelanjutan sejak duduk di SMP ketika ketika ia ditunjuk KLHK sebagai Duta Lingkungan pada 2005.

“Dari tanggung jawab untuk jadi Duta Lingkungan, aku belajar banyak. Anak muda juga bisa kontribusi lewat lingkungan untuk Indonesia dan bumi. Concern-ku memang di lingkungan dan aku senang bisa menyuarakan halhal positif lewat platform yang aku punya,” ujar pendiri Green Movement Indonesia tersebut.

Alumnus Columbia University, New York, Amerika Serikat itu pun tak mengelak bahwa memulai menerapkan gaya hidup hijau dan berkelanjutan memang menghadapi banyak tantangan. Namun, ia berpendapat, sudah tidak ada alasan bagi anak muda untuk tutup mata dan tidak bergerak untuk melestarikan lingkungan.

“Sudah banyak resources dan informasi yang bisa diakses tentang bumi kita. Sudah tidak ada alasan lagi untuk enggak tahu, kita harus mulai dari sekarang, dari diri sendiri. Langkah kecil kalau dilakukan kolektif juga akan berdampak besar,” pungkasnya. (Ant/H-3)

BERITA TERKAIT