22 September 2020, 18:43 WIB

Publik Dijaga, Publik Menjaga


RO/Micom | Humaniora

KEPALA Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Mayjen Tugas Ratmono mengatakan betapa pentingnya menjaga ketenangan publik menghadapi pandemi covid-19 ini.

Jenderal bintang dua, yang juga menjadi Koordinator Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, ini juga menilai tingkat kesadaran masyarakat menghadapi covid-19 relatif masih rendah.

"Misalnya, ada 10 orang di jalan. Hanya ada 6 orang yang memakai masker. Dari yang 6 itu, hanya 3 orang yang memakai masker dengan benar. Itu bukan gambaran yang mengada-ada," katanya di Jakarta, Selasa (22/9).

Tugas pun mengungkapkan, kunci strategi agar bisa menang dalam peperangan semesta melawan pandemi covid-19 adalah kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

"Masyarakatlah yang menjadi garda terdepan dalam memberikan perlawanan. Salah satu wujud dari perlawanan itu, ya disiplin menerapkan protokol kesehatan. Antara lain, disiplin mengenakan masker ketika berada di luar rumah. Ini untuk menjaga diri agar tidak tertular dan menulari orang lain," katanya.

Namun Tugas mengingatkan, dalam upaya meningkatkan kesadaran serta disiplin warga, para pihak hendaknya menahan diri dan tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan kegaduhan publik. "Karena, kegaduhan bisa memicu kepanikan, yang akhirnya bisa melemahkan kesadaran warga menghadapi pandemi covid-19. Publik dijaga dan publik menjaga," lanjutnya.

Tugas mencontohkan upaya menjaga ketenangan publik dengan cara ia membangun sistem, agar tiap pasien mendapatkan makanan, sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Karena itulah, di tiap boks makanan dicantumkan nama pasien. Isinya tentu saja berbeda antara pasien yang satu dengan yang lain, yang berbeda kondisi kesehatannya. Hal ini dievaluasi tiap hari, untuk memastikan, bahwa asupan gizi untuk masing-masing pasien benar-benar tepat, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan imunitas pasien yang bersangkutan.

Tugas pun memberikan arahan secara rinci kepada penanggung jawab di urusan gizi tersebut. Demikian pula kepada penanggung jawab kondisi psikis tiap pasien, yang tentu saja tenaga psikolog. Pasien yang terganggu secara psikis, cenderung menurun selera makannya, yang otomatis menurun pula imunitasnya.

Korelasi antara asupan gizi dan kondisi psikis tiap pasien, menjadi titik perhatian penting Tugas. Latar belakang keilmuannya sebagai dokter spesialis saraf (neurologi), membantunya memahami kondisi pasien, yang selanjutnya ia rumuskan melalui sejumlah kebijakan dalam penanganan pasien.

Tugas mengatakan penanganan yang cermat dan rinci terhadap pasien covid-19 di RSDC Wisma Atlet Kemayoran perlu diketahui oleh publik. Selain untuk menenangkan sang pasien, juga untuk menjaga ketenangan keluarga mereka di rumah masing-masing. Ketenangan kedua belah pihak tersebut, berkontribusi positif bagi pemulihan. (J-1)

 

BERITA TERKAIT