22 September 2020, 18:20 WIB

Facebook akan Verifikasi Ketat Iklan Politik


Sri Utami | Politik dan Hukum

Manajer Hubungan Pemerintah Facebook Indonesia dan Asia Pasifik Noudy Valdryno menerangkan grup Facebook telah menyiapkan desain khusus bagi peserta Pilkada Serentak dalam berkampanye. Dalam desain tersebut Facebook akan menerapkan verifikasi yang ketat terhadap peserta Pilkada yang berkampanye di laman media sosial Facebook dan Instagram. 

"Kami sudah siapkan platform transparansi iklan politik untuk hadapi pilkada. Ketika seseorang mau mengiklan maka dia harus memverifikasi identitasnya, mengirim data ke sistem Facebook. Informasi emailnya, alamat, nomor telepon jadi kita bisa tahu siapa yang beli iklan ini dan juga harganya," jelasnya, Selasa (22/9).

Baca juga : Platform Media Sosial Dituntut Transparan Soal Iklan Pilkada

Informasi tersebut bisa dilihat di bagian Facebook Ad Library, termasuk informasi dari mana pendanaan yang dimiliki peserta Pilkada. Di bagian itu dapat dilihat target kampanye atau iklan politik peserta Pilkada. Namun Noudy membantah jika dalam iklan politik menggunakan target berdasarkan data individu. 

"Untuk iklan politik harus menerangkan didanai siapa dalam proses verifikasi iklan politik. Apakah dari DPP atau ketumnya. Jika tidak dicantumkan maka iklannya tidak akan tayang di Facebook. Kami tidak menarget data pribadi atau individu tapi agregat atau acak," tegasnya. 

Lebih lanjut dikatakan grup Facebook menjadikan pemilu pilar utama untuk melindungi proses demokrasi. Sehingga pihaknya sangat serius untuk menjaga jangan sampai ada pihak yang mengintervensi pemilu di seluruh dunia khususnya di Indonesia baik dari negara lain. 

"Kami mempermudah pengguna dan masyarakat agar suara mereka didengar dalam proses politik. Tapi kita harus mengenjot literasi digital di Indonesia apalagi pertumbuhan pengguna internet di Indonesia sangat pesat," imbuhnya. 

Pihaknya telah melakukan desian perlindungan sejak 2019 yang diperkuat kembali untuk hadapi Pilkada serentak Desember mendatang. 

"Terus melakukan screening akun palsu di FB dan lainnya dan mereduksi dari berita palsu," ucapnya. 

Sejak 2018 Facebook berkomitmen untuk mengurangi berita palsu di Indonesia dan dunia dengan memeriksa fakta bersama pihak ketiga yang kredibel. "Kami cek fakta dengan pihak ketiga  seperti Mafindo, Tirto, Kompas (media)  Jika berita itu salah maka kami beri tanda bahwa berita itu salah. Tapi memang masih ada sajaa yang membagikan berita salah ini. Ini masalah kita dalam literasi digital," paparnya. 

Tidak hanya itu Facebook juga mendeteksi perilaku palsu yang kemudian menghapus (takedown) jika akun atau informasi tersebut palsu. 

"Kami juga melakukan pemilih yang terinformasi. Kegiatan dengan KPU dan Bawaslu seperti pelatihan di partai-partai dan agensi kreatif," tandasnya. (P-5)

BERITA TERKAIT