22 September 2020, 17:35 WIB

Pameran HUT Kota Kefamenanu Meriah dengan Protokol Kesehatan


Palce Amalo | Nusantara

PAMERAN pembangunan dan pasar rakyat memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur ke-98 berlangsung di Lapangan Oemanu, Kefamenanu, Selasa (22/9).

Kegiatan yang menghadirkan puluhan pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) itu, terpantau berlangsung dengan protokol kesehatan.

Petugas kesehatan dan aparat keamanan dari polisi dan satpol pamong praja terlihat berjaga-jaga di pintu masuk pameran untuk memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung. Mereka juga wajib mencuci tangan di tempat yang sudah disiapkan serta menjaga jarak aman.

"Kami senang karena protokol kesehatan diterapkan secara ketat, semua pengunjung pameran wajib mencuci tangan dan juga memakai masker," kata Maria, salah satu pengunjung pameran kepada wartawan.

Menurutnya, pengunjung yang tidak mengenakan masker, tidak diperbolehkan masuk ke lokasi pameran. Kebijakan itu dinilai sangat tepat untuk mencegah penyebaran virus korona, meskipun saat ini kabupaten yang berbatasan dengan Distrik Oekusi, Timor Leste itu berstatus zona hijau Covid-19.

Sejumlah pelaku UMKM mengatakan pemberlakuan protokol kesehatan dimulai sejak pembukaa pemera akhir pekan lalu. "Kami minta penjunjung yang berbelanja jaga jarak dan pakai masker," kata Fin Eko, salah satu pelaku UMKM.

Fin menjual beragam produk olahan pisang dan umbi-umbian antara lain anggur pisang seharga Rp25.000 per bungkus, kripik pisang balado Rp10.000 per bungkus, stik ubi unggu Rp5.000 per bungkus, instant kunyit Rp25.000 per bungkus, jahe kelor Rp25.000 per bungkus.

Menurutnya, permintaan produk tersebut agak berkurang jika dibandingkan pameran pada HUT Kota Kefamenanu tahun lalu. Kondisi itu menurut dia, kemungkinan disebabkan pandemi korona dan berbagai pembatasan akibat
pandemi.

Berbeda dengan Yohana Lolongsait yang memamerkan hasil tenun ikat. Dia meraup untung cukup banyak, sejak pameran hari pertama sebanyak 1.800 lembar kain laku terjual dengan nilai transaksi Rp28 juta. "Pendapatan sebesar ini sangat besar, apalagi di masa pandemi korona seperti saata ini," kata dia.

Sebaliknya, Eben Fobia yang juga memamerkan tenun ikan memperoleh pendapatan sebesar Rp2 juta. "Pameran tahun lalu, nilai penjualan saya sampai belasan juga," katanya.

Kendati terjadi penurunan, tambah Eben, pameran pembangunan telah mendorong masyarakat untuk bangkit melawan pandemi korona. "Kalau ada pelaku UMKM yang hasil penjualannya menurun itu mungkin karena pengunjung berkurang karena pendemi," ujarnya. Bupati Timor Tengah Utara, Raymundus Fernandes.

Bupati Raymundus berharap pameran pembangunan dan pasar rakyat tersebut mampu menggerakan ekonomi yang sebelumnya terpukul akibat pandemi. (OL-13)

Baca Juga: Pedagang Positif Covid-19 Meninggal, Pasar Sirampog Masih Ditutup

BERITA TERKAIT