22 September 2020, 14:35 WIB

1.392 Pedagang Pasar Positif Covid-19, Meninggal 55 orang


Putri Anisa Yuliani | Humaniora

PEDAGANG pasar tradisional menjadi salah satu yang berisiko terpapar virus corona. Sejak awal pandemi muncul, pasar merupakan tempat yang dikhawatirkan menjadi penularan virus tersebut.

Kekhawatiran tersebut terbukti dengan berdasarkan data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), yang menunjukkan terus bertambahnya pedagang pasar yang terpapar virus corona. Terlebih beberapa bulan terakhir, terdapat Kasus kenaikan dan tingkat kematian yang tinggi.

Data pedagang pasar terpapar virus corona terus bertambah. Meski begitu, penambahannya menurut Ketua Bidang Infokom DPP Ikappi Reynaldi Sarijowan berpendapat cukup signifikan selama beberapa pekan ini terhitung sejak September 2020.

Reynaldi mengatakan total ada sekitar 1.392 pedagang pasar terpapar virus corona dengan total kasus meninggal dunia sebesar 55 kasus. Kasus tersebut terdapat di 27 provinsi, 97 kab/kota, dan terjadi di 244 pasar.

"Sementara angka kematian tercatat sebanyak 55 orang. Jumlah tersebut bertambah 8 orang jika dibandingkan data pekan lalu yaitu 47 pedagang yang meninggal karena covid-19," kata Reynaldi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/9).

Adanya pedagang yang terpapar covid-19 membuat pasar harus ditutup sementara. Menurut data DPP Ikappi sudah terdapat 173 pasar yang pernah di tutup karena covid.

"Penutupan pasar terakhir terjadi di Pasar Kayen, Pati, Jawa Tengah. Penutupan pasar juga tersebar di 27 provinsi dan 97 kab/kota," ungkapnya.

Reynaldi mendorong pemerintah daerah bisa lebih fokus pada protokol kesehatan dan memperkuat tes swab atau rapid di pasar-pasar seluruh Indonesia.

"Sementara Ini provinsi yang sudah melaksanakan tahapan swab atau rapid baru DKI Jakarta, Sumbar, Yogyakarta. Selebihnya kami masih mendorongnya agar pemerintah lebih peduli. Selain itu, kami meminta pemerintah pusat dan daerah dapat memberikan stimulus kepada para pedagang dalam menjaga agar pasar tradisional tetap bertahan," paparnya.

Sebab, kata Reynaldi, pasar harus tetap berjalan sebagai penopang perekonomian daerah dan pusat distribusi pangan rakyat.

“Kami juga mendapati bahwa ada penurunan omzet pedagang sekitar 55% sampai dengan 70% seluruh Indonesia. Maka kami meminta kepada pemerintah untuk menjadikan pasar tradisional sebagai pusat pondasi perekonomian lokal atau perekonomian daerah sehingga kita bisa menjaga agar pasar dan perekonomian terus tumbuh,” ujar Reynaldi.(OL-4)

BERITA TERKAIT