22 September 2020, 09:50 WIB

BNSP Rancang Standar Baru PJJ


Syarief Oebaidillah | Humaniora

BADAN Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyebut sistem pendidikan jarak jauh (PJJ) Indonesia selama pandemi virus korona (covid-19) masih longgar. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan merancang PJJ lebih kuat, salah satunya dengan membuat modul-modul panduan PJJ bagi siswa, guru dan orang tua

Anggota BSNP Bambang Suryadi menyebut pihaknya telah membuat draf Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang Standar Pendidikan Jarak Jauh yang merupakan usulan revisi Permendikbud Nomor 119 Tahun 2014. Dengan Permendikbud yang baru nanti, para pelajar diharapkan mampu lebih memahami esensi dari PJJ.
 
"PJJ selama ini belum siap, masih ada yang cuma pakai WA (Whatsapp). Untuk itu kita dorong ada Permendikbud tersebut," kata Bambang dalam konferensi pers secara daring.

Dia menjelaskan PJJ yang dirancang ini akan melibatkan teknologi pembelajaran jarak jauh berbasis modul. Nantinya, siswa akan mendapat penugasan cukup banyak dan bisa dimonitor oleh guru. Dengan demikian siswa akan merasakan seperti sekolah biasa (waktu normal).
Suryadi menambahkan dengan tidak adanya standarisasi PJJ yang berlangsung sekarang, kegiatan siswa saat ini tidak terarah dan cenderung menjauh dari proses pembelajaran.

Pada kesempatan yang sama, Anggota BSNP Poncojari Wahyono mengungkapkan dalam standar PJJ tersebut, telah disiapkan pula aturan-aturannya. Sehingga, proses pembelajaran tidak akan jauh berbeda dengan tatap muka.
 
"Harus disertai dengan modul, di mana modul itu ada tahapan dan penugasan yang jauh lebih ketat, para siswa akan lebih betul-betul memenuhi tanggung jawab sebagai pelajar," terang Poncojari.
 
Ia menilai, jika pembelajaran hanya melalui Zoom atau Whatsapp, kemungkinan besar tidak terlalu diperhatikan peserta didik. Perlu ada modul agar anak tersebut paham akan tanggung jawabnya sebagai anak didik.
 
Poncojari menyebut maraknya tawuran pelajar di tengah pandemi bukan semata karena proses pembelajaran. Tetapi, psikologis anak juga berperan. Ia pun mengatakan, draf Permendikbud yang baru nanti akan dilengkapi instrumen yang diharapkan bisa mencegah tawuran. "Kita harapkan tidak hanya transformasi knowledge saja, tapi juga nilai," pungkas Poncojari.(H-1)

BERITA TERKAIT