22 September 2020, 07:35 WIB

Raja Bahrain Klaim Kesepakatan dengan Israel untuk Perdamaian


Faustinus Nua | Internasional

RAJA Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, Senin (21/9), mengatakan langkah negara itu menjalin hubungan dengan Israel tidak ditujukan terhadap entitas atau kekuatan apa pun, tetapi bertujuan mewujudkan perdamaian yang komprehensif di Timur Tengah.

Raja, dalam pernyataan Kabinet yang dilaporkan kantor berita BNA, menegaskan kembali dukungan Bahrain untuk Palestina dan untuk prakarsa perdamaian Arab yang dibuat pada 2002.

Menurutnya, hal itu menawarkan hubungan normalisasi Israel dengan imbalan kesepakatan kenegaraan dengan Palestina dan penarikan penuh Israel dari wilayah tersebut.

Baca juga: AS Keluarkan Peringatan untuk Warga Mereka di Bahrain

Bahrain dan Uni Emirat Arab menjadi negara Arab pertama dalam seperempat abad yang menormalkan hubungan dengan Israel. Namun, tanpa ada penyelesaian sengketa Israel dengan Palestina, dalam penataan kembali strategis negara-negara Timur Tengah melawan Iran.

Kesepakatan itu menyerukan hubungan diplomatik penuh tetapi menghindari istilah normalisasi.

"Toleransi dan hidup berdampingan menentukan identitas asli Bahrain kami. Langkah kami menuju perdamaian dan kemakmuran tidak ditujukan terhadap entitas atau kekuatan apa pun, melainkan demi kepentingan semua orang dan bertujuan untuk bertetangga yang baik," kata Raja Hamad, dikutip BNA.

Adapun, protes jalanan pecah di Bahrain sejak menandatangani perjanjian dengan Israel, awal bulan ini.

Bahrain adalah satu-satunya negara Teluk Arab yang menyaksikan pemberontakan prodemokrasi yang cukup besar pada 2011, yang dikalahkan dengan bantuan Arab Saudi dan Emirat.

Negara yang diperintah Sunni itu menuduh Muslim Syiah Iran mendukung subversi, tuduhan yang dibantah Iran. (CNA/OL-1)

BERITA TERKAIT