22 September 2020, 04:21 WIB

Utamakan Pendekatan Sains Jadi Komitmen


Van/Hym/CNA/Straits Times/Ant/X-7 | Humaniora

LEBIH dari 169 kandidat vaksin sedang dikembangkan di dunia saat ini, sebanyak 26 di antaranya sudah dalam uji coba pada manusia.

Asosiasi Industri Farmasi Singapura (SAPI) mengatakan perusahaan farmasi tetap berkomitmen mengutamakan pendekatan sains dalam upaya mengembangkan vaksin covid-19. Bahkan, ketika tekanan terus meningkat di tengah perlombaan global untuk mengakhiri pandemi.

“Biasanya, proses pengembangan vaksin berlangsung lama, rumit, dan berisiko. Prosesnya bisa memakan waktu 20 tahun,” jelas Wakil Presiden SAPI, Ashish Pal, kemarin.

Menurut Direktur Pelaksana MSD Pharma Singapore itu, perusahaan yang mengembangkan kandidat vaksin sedang mengerjakan banyak elemen dari proses pengembangan.

Meski ada kebutuhan akan urgensi, lanjut Pal, yang terpenting tidak mengorbankan keselamatan. Hal itu menjadi komitmen bersama pengembang vaksin di dunia.

Pal merujuk pada janji bersama yang dibuat sembilan pengembang vaksin A merika dan Eropa. Pengembang vaksin tersebut ialah Pfizer, GlaxoSmithKline, AstraZeneca, Johnson & Johnson, Merck & Co, Moderna, Novavax, Sanofi, dan BioNTech.

Di sisi lain, para peneliti dari sekolah kedokteran National University of Singapore (NUS) dan Monash University di Australia sedang mengembangkan vaksin covid-19 yang bersiap untuk uji klinis pada akhir tahun depan.

Vaksin yang dimodifikasi dari obat kanker itu telah menjalani penelitian pada hewan dan para peneliti berharap dapat melakukan uji klinis di Singapura maupun Australia.

Vaksin yang disebut Clec9A-RBD itu merupakan vaksin virus korona ketiga yang dikembangkan Singapura.

Terpisah, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pihaknya mengupayakan sejumlah percepatan untuk kemandirian Indonesia dalam penyediaan dan pengembangan vaksin covid-19.

“Pertama, penguatan di riset dan pengembangan vaksin di lab. Selain protein rekombinan yang dikembangkan Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada pula vaksin yang dikembangkan beberapa universitas dengan berbagai platform lain,” ujarnya. (Van/Hym/CNA/Straits Times/Ant/X-7)

BERITA TERKAIT