21 September 2020, 16:15 WIB

Mampu Genjot Produksi Pangan, Lamongan Diapresiasi Kementan


M Yakub | Nusantara

KEMENTERIAN Pertanian RI menyatakan Kabupaten Lamongan, Jatim, merupakan sentra produksi pangan nasional yang telah diakui kualitasnya. Lamongan juga sukses mendongkrak hasil pertanian produktivitas padi mencapai 7,5 ton per hektare (ha) dan jagung 9,7 ton per ha.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDM) Kementerian Pertanian dalam kunjungan kerja di Kabupaten Lamongan, Jumat pekan lalu. Kunjungan kerja dilaksanakan dalam rangka penguatan tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) serta pemberdayaan penyuluh pertanian mendukung percepatan program pertanian.

Kepala BPPSDM Kementan RI Dedi Nursyamsi menyampaikan Lamongan merupakan sentra produksi pangan nasional yang telah diakui kualitasnya oleh Kementrian Pertanian. Dedi juga mengapresiasi Lamongan yang telah sukses mendongkrak hasil pertanian produktivitas padi mencapai 7,5 ton/Ha dan jagung 9,7 ton/Ha.
Tak hanya itu, Lamongan juga sukses mentransformasikan petani tradisional yang biasanya hanya tunggal tanam jagung menjadi petani modern dengan mengaplikasikan berbagai alat dan mesin pertanian.

"Peningkatan kapasitas, kemampuan, ketrampilan, dan pengalaman penyuluh serta petani ini perlu diperkuat dan dilanjutkan. Lamongan harus tetap menjadi andalan dalam produktifitasnya juga, karena kalau produktivitas Lamongan berkurang, Jatim dan nasional bisa goyah," ungkap Dedi.

Dalam kesempatan itu, Bupati Lamongan Fadeli juga mengungkapkan kondisi SDM penyuluh di Lamongan sudah handal, namun perlu terus untuk ditingkatkan. Bupati juga mengatakan petani Lamongan pintar dalam memilih pupuk, dengan beralih menggunakan pupuk organik.

"Di Lamongan ada program Tersapu Jagat (Ternak Sapi Usaha Jagung Meningkat), yang ini terkoneksi dengan ketersediaan pupuk Lamongan, petani Lamongan lebih senang menggunakan pupuk organik dibandingkan pupuk pabrikan," ujar Bupati Fadeli.

Bupati menambahkan, produktivitas pertanian dapat meningkat jika penyuluh dapat diperkuat dalam masalah kepegawaian serta kemampuan dan ketrampilan. Selain itu dapat diatasi pula jika kendala kekurangan ternak sebagai pasokan  pupuk organik juga dapat tercukupi.

Sebagai bentuk tindak lanjut dari Kementan RI, Dedi menyebutkan akan dilakukan peningkatan kapasitas, kemampuan, ketrampilan, pengalaman, serta masalah kepegawaian.
 
Sebanyak 99 penyuluh yang belum tersejahterakan karena kendala tertentu akan diupayakan agar dapat menerima SK pengangkatan sebagai ASN PPPK. Disaat yang sama, petani juga harus ditingkatkan kapasitasnya, sehingga penyuluh dan petani saat turun ke lapangan sudah memiliki inovasi-inovasi. (OL-13)

Baca Juga: DKI Diminta Segera Siapkan Lahan Pemakaman Alternatif

BERITA TERKAIT