21 September 2020, 04:42 WIB

Langkah Jitu BI Percepat Pemulihan


Despian Nurhidayat | Ekonomi

BELUM jelasnya perkiraan waktu berakhirnya pandemi covid-19 mendorong Bank Indonesia (BI) mengeluarkan berbagai jurus untuk ikut mempercepat pemulihan ekonomi.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperpanjang pemberian insentif berupa pelonggaran giro wajib minimum (GWM) rupiah sebesar 50 basis poin bagi perbankan yang menyalurkan kredit UMKM, ekspor impor, dan kredit non-UMKM sektor prioritas hingga 30 Juni 2021.

“Dari sebelumnya hingga 31 Desember 2020 menjadi 30 Juni 2021,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam telekonferensi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2020 di Jakarta, Kamis(17/9) lalu.

Keputusan itu diambil BI tak lain untuk mendorong pemulihan ekonomi dari dampak pandemi covid-19.

Ketentuan terkait pemberian insentif itu diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 22/4/PBI/2020 tentang Insentif bagi Bank yang Memberikan Penyediaan Dana untuk Kegiatan Ekonomi Tertentu guna Mendukung Penanganan Dampak Wabah Virus Corona.

Pelonggaran itu diharapkan akan mendorong intermediasi perbankan sebagai upaya BI memitigasi dampak covid-19.

Dalam RDG periode September 2020 itu, bank sentral juga menempuh langkah lain untuk mendorong pemulihan ekonomi, di antaranya melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

Kemudian, memperkuat strategi operasi moneter guna meningkatkan transmisi stance kebijakan moneter yang ditempuh, sekaligus mendorong pengembangan instrumen pasar uang untuk mendukung pembiayaan korporasi dan UMKM sejalan dengan program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Selain itu, melanjutkan perluasan akseptasi QRIS dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi dan pengembangan UMKM.

Caranya, lanjut Perry, melalui perpanjangan kebijakan merchant discount rate (MDR) sebesar 0% untuk Usaha Mikro (UMI) dari 30 September 2020 menjadi sampai 31 Desember 2020.

BI, sambung dia, akan menempuh kebijakan lanjutan dalam mendukung program pemulihan ekonomi nasional dengan mencermati dinamika perekonomian dan pasar keuangan global, serta penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap prospek perekonomian Indonesia.

“Koordinasi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional,” katanya.

Realisasi penyaluran

Awal September lalu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut penempatan dana pemerintah Rp30 triliun telah disalurkan oleh bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) sebesar Rp79,7 triliun kepada 950 ribu debitur.

Penyaluran itu merupakan 265,7% dari rasio realisasi terhadap alokasi dana dan 65,9% dari rasio realisasi rencana distribusi sebesar Rp120,9 triliun atau empat kali lipatnya.

“Dalam dana kemarin oleh bank Himbara, yang Rp30 triliun telah disalurkan sejumlah Rp79,7 triliun kepada 950 ribu debitur,” kata Wimboh dalam Raker bersama Komisi XI DPR, Rabu (2/9).

Ia optimistis dana pemerintah Rp30 triliun di empat bank Himbara yaitu Bank BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN akan mampu tersalurkan hingga mencapai lebih dari tiga kali lipat.

“Ini kelihatannya masih terus dilakukan untuk memultiplier ini dan kami yakin bisa lebih dari tiga kali untuk penyaluran kreditnya,” Wimboh.

PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk sendiri optimistis dapat memenuhi komitmen penyaluran kredit dari dana penempatan pemerintah untuk program PEN terebut.

Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan BTN akan memenuhi target penyaluran kredit hingga 3 kali lipat atau sebesar Rp15 triliun dari dana Rp5 triliun yang ditempatkan pemerintah.

Pahala menjelaskan, pada 25 September nanti penyaluran pembiayaan dari penempatan dana pemerintah diproyeksikan akan mencapai Rp15,38 triliun atau 102,5% dari target.

“Segmen terbesar dari penerima pembiayaan tersebut ialah KPR subsidi, yakni untuk 28.807 debitur senilai Rp3,99 triliun. Jumlah itu setara 26% dari keseluruhan pembiayaan yang disalurkan,” ujar Pahala, Kamis (17/9).

Bank Mandiri sebagai penerima dana PEN juga melaporkan telah merealisasikan pembiayaan Rp32 triliun dari Rp10 triliun dana yang ditempatkan pemerintah.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan per Juni 2020 atau selama kuartal II 2020, kredit Bank Mandiri masih bisa tumbuh sebesar 4,07% secara tahunan (yoy) atau sebesar Rp754,8 triliun.

Senada dengannya, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan pihaknya telah menyalurkan Rp30 triliun kepada 695 ribu debitur dari dana pemerintah Rp10 triliun. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT