21 September 2020, 03:15 WIB

Dampak Bergulir Anggaran Pemulihan


Ihfa Firdausya | Politik dan Hukum

OPTIMALISASI program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diprediksikan semakin memacu aktivitas ekonomi yang pelahan-lahan kini terus
membaik.

Hal itu tampak dari sejumlah indikator yang menunjukkan sinyal positif membaiknya aktivitas perekonomian, yakni purchasing managers’ index (PMI) manufaktur dan surplus perdagangan Agustus sebesar US$2,3 miliar.

Data mencatat surplus perdagangan selama empat bulan berturut-turut itu ditopang surplus nonmigas US$2,66 miliar dan defisit migas US$0,34 miliar.

Selain itu, secara tahun berjalan, neraca perdagangan sepanjang Januari-Agustus 2020 surplus sebesar US$11,05 miliar.

“Kita perlu melihat optimisme dan tren. Saat PSBB, PMI manufaktur turun drastis ke 27,5. Namun, saat masyarakat berkegiatan lagi, PMI naik ke 50,8. Itu di atas rata-rata, standar PMI ialah 50,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada webinar Menggerakkan Roda Perekonomian di Tengah Pandemi Covid-19, Jumat (18/9).

Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Raden Pardede mengungkapkan bahwa pemerintah juga tidak menutup kemungkinan terhadap efek ganda berlipat dari program PEN tersebut di tahun depan.

“Dampaknya tidak langsung sekarang mungkin bulan berikutnya. Program subsidi gaji, bantuan UMKM, dan bansos sudah berjalan semua,” ujar Raden kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Raden menambahkan pemerintah juga mempertimbangkan di tahun depan warga kelas menengah bawah masih menghadapi permasalahan keuangan. Oleh karena itu, beberapa program PEN berlanjut pada 2021. “Bansos dan Program Keluarga Harapan (PKH) masih berjalan sampai semester pertama.”

Sekretaris Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan PEN Susiwijono Moegiarso kemarin menyatakan per Jumat (18/9) 2020 realisasi program PEN mencapai Rp254,4 triliun atau 36,6% dari alokasi anggaran Rp695,2 triliun (lihat grafi k).

Sampai akhir tahun, lanjut Susiwijono, pemerintah menargetkan serapan anggaran PEN di pos kesehatan Rp84,02 triliun, perlindungan sosial Rp242,01 triliun, sektoral/pemda Rp71,54 triliun, UMKM Rp128,05 triliun, pembiayaan korporasi Rp49,05 triliun, dan insentif usaha Rp120,61 triliun.

Konsumsi domestik

Pada sisi lain, Ketua Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional Budi Gunadi Sadikin meyakini anggaran PEN mampu menggerakkan ekonomi cukup besar pada triwulan III 2020.

“Kami telah menyalurkan anggaran penanganan covid-19 sebesar Rp87,5 triliun. Penyaluran bisa ditingkatkan hingga total Rp100 triliun. Jika bisa menyentuh angka ini, multiplier effect-nya mampu menopang pertumbuhan ekonomi di triwulan ketiga. Kami harap ini membantu masyarakat menghadapi pandemi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Budi, pekan lalu.

Dalam penilaian Direktur Riset Indef Berly Martawardaya kemarin program PEN bisa terjadi cepat apabila pandemi covid-19 mereda atau dapat dikendalikan.

“Tidak sampai setahun. Pemulihan itu ditopang oleh perekonomian Indonesia berbasis konsumsi domestik yang cukup tangguh selama pandemi.” (Des/Pra/Ins/Ant/S-3/X-3)

BERITA TERKAIT