20 September 2020, 05:35 WIB

Roman Satir ala Sidi Saleh


(Jek/M-2) | Weekend

SETELAH tayang perdana di ‘Negeri Paman Sam’ pada Festival of Cinema New York, circa 2019, aThis is not a Love Story akhirnya rilis di hadapan publik sendiri.

Tepatnya, di layar kaca, lewat platform Genflix, mulai 16 September silam. Film fitur debut suradara Sidi Saleh tersebut berisi kisah urban yang menyoroti Jaya (Edward Akbar), pedagang asongan yang bercita-cita menjadi aktor.

Sehari-hari, ia bergaul dengan Cak Nur (Fuad Idris), pemilik warung di dekat tempat tinggalnya.Plot pada film drama satire itu mulai bergulir ketika suatu malam keduanya menemukan seorang perempuan (Irina Chiu), berikut kursi rodanya, terbaring dalam truk sampah.

Jaya lalu membawa perempuan itu ke rumah. Dengan diiming-imingi Cak Nur, ia berharap akan ada keluarga yang mencari perem-puan misterius tersebut dan memberi imbalan bagi Jaya.

Marlina, begitu Jaya menamainya, lumpuh dan tak bisa bicara. Mimiknya pun nyaris datar. Namun, Jaya rajin mengobrol de-ngan Marlina. Berbagi cerita meski tiada tanggapan untuknya.

Jaya bahkan membawa Marlina ke tempat-tempat ia biasa meng-asong. Tak lupa didandaninya Marlina dengan kaus belel dan sarung lusuh sebelum dijadikannya peminta-minta.

Konflik mulai muncul saat keluarga Marlina mencarinya dan, ya, seperti ekspektasi Cak Nur, ada imbalan bagi yang menemukan perempuan tersebut. Namun, Jaya merasakan dilema ketika tebersit harus melepas Marlina.

Walau ini ialah fi lm fi tur perta-manya, Sidi bukan orang baru di dunia perfi lman. Sebelum meram-bah penyutradaraan, ia lebih dulu dikenal sebagai sinematografer tandem untuk film-film Edwin dalam naungan Babibutafilm.

Sidi kemudian menggarap film-film pendek. Salah satunya ialah Maryam, yang sukses menggondol Piala Orrizonti untuk fi lm pendek terbaik pada Venice Film Festival ke-71 pada 2014.

Berbeda dengan Maryam yang dimuati bahasa simbolis, penceri-taan padaThis is not a Love Storyterasa lebih gamblang. Sidi pun tidak terjebak pada pornografi kemiskinan kendati penceritaan dibangun dari latar proletariat urban.

Baik Jaya maupun Cak Nur tidak ditempatkan sebagai sosok yang butuh dimelasi. Sisi menarik, yang juga satire, dari fi lm ini ialah penyusunan adeg-an-adegan casting sebagai transisi gyang membentuk pernyataan ter-hadap situasi di balik pemilihan aktor-aktor pada suatu film.

Nuansa satire soal keaktoran itu diperkuat pada adegan percakapan Jaya dengan Bos Parjo yang me-mintanya mengajari orang-orang untuk berakting menjadi pengemis. Padahal, mimpi Jaya menjadi aktor sendiri belum kesampaian.

Film berdurasi 87 menit ini bisa terasa lebih berbobot andai Sidi memberikan porsi lebih pada karakter Marlina sebagai penyan-dang disabilitas. Sayangnya, tak ada perkembangan karakter pada Marlina. Ia terpinggirkan pada akhir film sebagaimana kaum difabel termarginalkan oleh Ibu Kota. (Jek/M-2)

BERITA TERKAIT