20 September 2020, 05:45 WIB

Merawat Napas Sinema Asia Tenggara


FATHURROZAK | Weekend

DI sejumlah region Asia Tenggara, kegiatan industri perfilman mulai menggeliat. Indonesia, Malaysia, dan Filipina, misalnya, sudah mulai berproduksi kembali dengan beberapa ketentuan protokol kesehatan pada produksi audio visual.

Bioskop di dua negara terakhir yang disebut tadi juga sudah mulai dibuka. Akan tetapi, bukan hal mudah me-mulihkan kembali industri yang sem-pat megap-megap gegara covid-19 ini, di tengah kebijakan baru dari regulator pada masa kenormalan baru.

Lewat protokol produksi yang disusun Badan Perfi lman Indonesia (BPI), para sineas Tanah Air menye-suaikan skema produksi mereka di tengah situasi krisis pandemi. Demikian pula di negeri jiran.

Malaysia, misalnya, melalui Perbadan Kemajuan Filem Nasional Malaysia (Finas), juga menyusun protokol sejenis. Protokol yang disusun Finas tidak saja mengatur soal produksi, tetapi juga kegiatan ekshibisi film.

Roh, film garapan Emir Ezwan yang seharusnya rilis pada Maret, menjadi salah satu film domestik Malaysia yang akhirnya tayang setelah bioskop kembali buka di Malaysia.

Film itu bertahan selama enam pekan di Malaysia sejak tayang pada awal Agustus. Itu berhadapan dengan Tenet, dan sekuel thrillerzombie Train to Busan: Peninsula.“Cukup menjadi kejutan untuk kami sebenarnya, ketika sepertinya orang masih takut untuk kembali ke bioskop.

Kami tidak punya banyak waktu lain setelah ini karena pasti akan berhadapan dengan Mulanjika tidak memilih rilis pada Agus-tus,” papar produser fi lm Roh Amir Muhammad, dalam diskusi virtual Southeast Asian Film Policy Post-Covid-19, yang menjadi rangkaian festival film pendek Seashorts Malaysia, Selasa, (15/9).

Selain di Malaysia, fi lm produksi Kuman Pictures itu juga tayang di Singapura dan bertahan hingga lima pekan. Di Malaysia, Roh awalnya mendapat slot 51 bioskop, yang ke-mudian bertambah menjadi 70.

“Kami rasa cukup, dengan bujet kecil. Kami tidak mengejar status blockbuster. Karena bujet minim, kami pun tidak mencetak ulang poster, hanya menempelkan stiker untuk tanggal baru penayangan-nya,” lanjut Amir.

Pada April, Kementerian Komu-nikasi dan Multimedia Malaysia (KKMM) telah menggelontorkan insentif sebagai respons proposal yang diajukan Finas untuk mem-bantu para pekerja fi lm yang ter-dampak oleh covid-19. Total, ada sekitar RM40 juta (Rp143 miliar lebih) yang disalurkan Finas un-tuk menstimulasi industri fi lm dan televisi Malaysia.

Melalui program Pelan Langkah Segera Ekonomi Industri (Pelaksana), dana itu disa-lurkan lewat kerja sama dengan tiga jaringan stasiun televisi untuk kemudian disalurkan ke beberapa rumah produksi.

“Nantinya, kekayaan intelek-tual (IP) menjadi milik produser. Produser mendapatkan IP kon-tennya, stasiun TV mendapatkan produknya. Ini akan memberikan pekerjaan kepada mereka yang berada di belakang layar,” papar anggota Dewan Finas, Haris Sulong, dalam diskusi tersebut.

Sayangnya, belum ada stimulus serupa yang dirasakan para pekerja fi lm di Filipina dan Indonesia. CEO Film Development Council of the Philippines (FDCP) Liza Dino me-nyebut sektor fi lm tidak mendapat jaring pengaman sosial dari paket kebijakan yang diluncurkan peme-rintah mereka.

Sebab itu, organisasi yang dikepalai Liza meluncurkan program DEAR (Disaster/Emergency Assistance and Relief). Program itu ffmerupakan respons atas situasi perfilman di Filipina pada masa pandemi.

Lewat DEAR, pekerja fi lm bisa mengajukan formulir bantuan. Setiap pekerja fi lm dan televisi men-dapat alokasi 8.000 peso (Rp2,4 juta). Bahkan, FDCP juga mengalokasikan 5.000 peso (Rp1,5 juta) bagi pekerja media bidang hiburan.“Industri film dianggap bukan sektor utama penyumbang ekonomi. Kami tidak mendapat jaring penga-man sosial. Lalu kami pun melobi senat untuk memberikan stimulus ekonomi ke pekerja film. Para pekerja fi lm di Filipina 70% merupa-kan pekerja lepas.

Tentu ini situasi yang sulit,” tutur Liza.Meski telah merilis insentif, Liza mengakui upayanya bersama FDCP belum menyentuh seluruh lapisan pekerja di industri fi lm. Situasi yang tampak familier dengan di Indo-nesia.

Apalagi, meski industri fi lm Fili pina menjadi salah satu yang tertua di kawasan Asia Tenggara, menurut Liza, belum ada databasepekerja fi lm yang terintegrasi dan rinci.“Kami meluaskan upaya dengan berkolaborasi bersama Lockdown Cinema Club. Kami bisa mendapat-kan daftar para pekerja fi lm dari sini juga, untuk mengetahui yang memerlukan dukungan,” papar Liza.

Lockdown Cinema Club me-rupakan inisiatif bentukan para sineas independen Filipina untuk membantu sesama pekerja film yang terdampak pandemi. Inisiasi ini juga menampung donasi untuk disalurkan.

Urun dana

Lalu, bagaimana para pekerja fi lm membayangkan masa mendatang industri perfi lman Asia Tenggara, mengacu pada beberapa kebijakan pemerintah? Jika menilik protokol produksi audio visual yang dite-rapkan baik di Malaysia, Filipina, maupun Indonesia, ketiganya punya karakteristik serupa.Amir berpendapat, industri fi lm Asia Tenggara harus mengeksplorasi dengan cara-cara berbeda di masa mendatang.

Meski cukup lega ketika pemerintah di negaranya memberi-kan stimulus ekonomi, menurutnya, itu tidak bisa menjadi sandaran utama.“Cara yang bisa dieksplorasi ialah seperti urunan dana. Ini terbilang sukses di beberapa negara. Itu terjadi di Indonesia, seperti yang dilakukan Riri Riza untuk film Atambua-nya. Para pekerja fi lm di Asia Tenggara bisa mencontoh ini agar tidak selalu bersandar juga pada perusahaan besar yang datang ke kita.”

Koproduksi

Produksi bersama (koproduksi) ialah alternatif lain yang bisa ditem-puh untuk menguatkan industri film di kawasan.

Di tengah kompetisi pasar yang ketat dengan maraknya fi lm-fi lm Hollywood, cara pandang audiens Asia Tenggara juga perlu diperluas untuk melihat produk para sineas lokal mereka.

Joachim Ng dari Infocomm Media Development Authority (IMDA) Si-ngapura, umpama, menyebutkan pihaknya melakoni strategi tersebut untuk memperluas pasar; melaku-kan koproduksi dengan beberapa kreator di luar Singapura.

Perubah-an cara pandang dari ‘diproduksi di Singapura’ ke ‘dibuat talenta Singapura’ juga menjadi salah satu kunci dalam perkembangan industri perfi lman ‘Negeri Singa’.

Lewat program Southeast Asia Co-Production Grant Singapore Film Commission (SFC) yang dinaungi IMDA, mereka memfasilitasi pro-duser asal Singapura untuk men-cari koproduser dari region Asia Tenggara.

Bahkan, sutradaranya harus dari luar Singapura. No-vember tahun lalu, ada delapan dari 26 proposal proyek fi lm fi tur yang mendapat dana hibah ini, termasuk fi lm Yuni (Kamila Andini), Autobio graphy(Makbul Mubarak), dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Edwin).

Setiap proyek akan mendapat pendanaan produksi hingga sekitar S$250 ribu (Rp2 miliar lebih).“Mengapa kami mengharuskan produser berasal dari Singapura? Karena kami menyadari untuk menciptakan film hebat, butuh produser.

Tapi, cukup sulit untuk membimbing dan mendukung produser yang bagus di sini. Jadi, kami ingin mereka (produser) me-nemukan talenta lintas batas, untuk diajak berkolaborasi,” kata Joachim dalam diskusi virtual Reinventing Southeast Asia: Made-in-Southeast-Asia Films, Kamis, (17/9)

.Proyek koproduksi juga muncul di Filipina. FDCP menginisiasi program International Co-Production Fund(ICOF), juga bekerja sama dengan Tatino Films meluncurkan program Full Circle Lab.Program kedua lebih berfokus pada region Asia Tenggara.

Itu me-mungkinkan sineas lokal Filipina dan negara tetangga mengirim proposal pendanaan dan pengem-bangan proyek dengan mentor inter nasional. “Ini salah satu inisiatif kami untuk membawa sineas kembali bekerja bersama untuk region kita,” papar Liza yang juga hadir dalam forum yang sama dengan Joachim.

Kendala Bahasa dan Miskonsepsi

Namun, koproduksi antarnegara bukan tanpa tantangan. Sutradara Singapura Anthony Chen menyoal adanya kendala bahasa. Ia berkaca pada pengalamannya saat mem-produseri Pop Aye (2017).

Menurut Chen, penting untuk menemukan tim yang bisa berkomunikasi de-ngan baik, terlebih ketika sineas melakukan koproduksi. “Ya, bahasa menjadi kendala. Untuk membentuk tim yang tepat, harus ketemu koproduser yang juga tepat. Harus percaya karena sesuatu yang buruk bisa saja ter-jadi di lokasi.

Merekalah yang akan membantu,” kata Chen.Walakin, produser Gin Kai Chan beranggapan, seharusnya perbe-daan bahasa di region Asia Tenggara bukan suatu masalah.“Kalau audiens kita bisa me-nikmati film Korea atau Jepang, apakah mereka tahu bahasa terse-but? Lalu mengapa tidak dengan bahasa dari negara Asia Tenggara? Saya kira itu datang dari adanya miskonsepsi,” kata Chan.

Liza sepakat dengan Chan. Menu-rutnya, perbedaan bahasa dalam fi lm yang diproduksi bukan menjadi isu utama. Lebih lanjut, Liza me-ngatakan miskonsepsi itu muncul karena audiens belum melihat lebih banyak film Thailand, Singapura, atau lainnya.

“Harus selalu ada ruang di bio-skop untuk fi lm-fi lm Asia Tenggara. Makanya butuh seperti arthouse cinema. Audiens kita juga butuh per-kembangan tontonan.

Beruntung, saat ini kita bisa mencari fi lm dari negara tetangga di platform OTT. Semoga ke depan ada niat yang le-bih serius lagi dari semuanya untuk selalu menemukan ruang bagi fi lm-fi lm Asia Tenggara.” (M-2)

BERITA TERKAIT