20 September 2020, 05:44 WIB

Belum Kendur Mengantar Ratu Kalinyamat


Sru/N-2 | Humaniora

SEJAK 2011, lewat Yayasan Dharma Bakti Lestari, Lestari Moerdijat terus memperjuangkan pengakuan untuk Ratu Kalinyamat.

“Adalah keniscayaan, Ratu Kalinyamat mendapat gelar pahlawan nasional,” ujar Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI itu.

Bukan persoalan mudah. Sampai tahun ini, Ratu Kalinyamat, penguasa di Jepara, Jawa Tengah, pada abad ke-16, itu, belum masuk deretan daftar pahlawan nasional.

“Ini menjadi pelecut bagi tim, kita semua, untuk mampu menyiapkan karya dan kerja yang bisa menguatkan pemberian gelar pahlawan nasional untuk beliau,” ujar Lestari dalam diskusi kelompok terbatas secara daring, kemarin.

Ia menegaskan ada satu celah sebagai pintu masuk, yaitu keteladanan Ratu Kali nyamat sebagai tokoh perempuan pejuang. Sejumlah literatur memperlihatkan bahwa putri Pangeran Trenggana dan cucu Raden Patah, sultan Demak pertama, itu, sudah berjuang melawan pendudukan Portugis.

“Kami menemukan satu literatur di Portugis dalam buku dan bahasa Portugis. Ini bisa menjadi rujukan studi literatur. Ada jejak Ratu Kalinyamat yang dicatat sebagai perempuan tangguh dan pejuang,” tambah Mbak Rerie, panggilan akrab Lestari Moerdijat.

Dia juga melihat pentingnya kemauan politik dari pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Jepara. “Harus ada political will dari Pemkab Jepara. Kita harus terus memperkuat relevansi dan urgensi bahwa Ratu Kalinyamat sangat layak mendapat gelar pahlawan nasional,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, pakar maritim geopolitik Malaka dan Indonesia Timur Connie Rahakundini menegaskan bahwa Ratu Kalinyamat sangat layak menjadi pahlawan nasional. “Kiprahnya melebihi pahlawan perempuan yang lain di Tanah Air.”

Ratu Kalinyamat, sambungnya, sudah berpikir Indo- Pasifik vision dan tata kelola hubungan luar negeri secara merdeka. Tidak hanya konsen ke Malaka, dia juga sudah berpikir menumbuhkan cinta Tanah Air.

“Pemikiran Ratu Kalinyamat yang mendunia, gagasan kemaritiman, patriotik, dan nasionalisme yang tinggi membuatnya menjadi figur yang melampaui pemikiran perempuan pada masanya yang kala itu didominasi para sunan atau pria.” (Sru/N-2)

BERITA TERKAIT