20 September 2020, 04:20 WIB

Aktivitas Ekonomi Tunjukkan Sinyal Positif


Ins/I-1 | Ekonomi

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah aktivitas ekonomi mendapatkan sinyal positif. Salah satu indikatornya ialah surplus perdagangan pada Agustus 2020 sebesar US$2,3 miliar.

Data mencatat, surplus perdagangan terjadi dalam empat bulan berturut-turut, didorong surplus nonmigas sebesar US$2,66 miliar dan defisit migas sebesar US$-0,34 miliar. Selain itu, secara tahun berjalan, neraca perdagangan mulai Januari–Agustus 2020 juga surplus sebesar US$11,05 miliar.

“Ekspor pertanian sepanjang Januari–Agustus 2020 tumbuh 8,59% (ytd), terutama ekspor buah-buahan. Jadi, hortikultura sudah menjadi bagian dari ekspor kita,” ujar Airlangga Hartarto dalam webinar secara daring berjudul Menggerakkan Roda Perekonomian di Tengah Pandemi Covid-19, di kediamannya, Jumat (18/9) malam.

Sejumlah indikator pun mulai memperlihatkan sinyal positif dari perbaikan aktivitas ekonomi, seperti purchasing managers’ index (PMI) manufaktur, indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, penjualan kendaraan bermotor, saldo bersih tertimbang (SBT) investasi, dan inflasi inti.

“Kita perlu melihat optimisme dan tren. PMI manufaktur kita pada saat melakukan PSBB turun drastis ke 27,5. Namun, saat beberapa kegiatan di masyarakat sudah mulai dilaksanakan, PMI kita sudah mulai naik ke angka 50,8. Itu di atas rata-rata, standar PMI adalah 50,” sambung Menko Airlangga.

Realisasi program bantuan

Dalam kesempatan ini, Menko Perekonomian juga menyampaikan perkembangan mengenai realisasi program bantuan pemerintah, termasuk program kartu prakerja yang kini diposisikan sebagai semibantuan sosial (bansos) bagi pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dirumahkan, dan pekerja informal terdampak.

Realisasi program kartu prakerja hingga 17 September 2020 ialah terdapat >26 juta pendaftar dari 514 kabupaten/kota, >4,68 juta penerima kartu prakerja, 2,39 juta peserta menyelesaikan pelatihan, dan 1,45 juta peserta telah menerima insentif.

Selain itu, dalam upaya transformasi ekonomi, RUU Cipta Kerja juga terus didorong sebagai kebijakan yang sangat strategis. RUU ini ditujukan untuk mampu memulihkan dan memperbaiki perekonomian nasional, terutama pada masa pandemi dan pascapandemi covid-19.

“RUU Cipta Kerja sedang dalam pembahasan di DPR RI. Pemerintah berharap bisa mengurangi obesitas di regulasi dan memperbaiki iklim penciptaan lapangan pekerjaan. Tentunya juga dengan timing yang tepat, diharapkan ekonomi bisa pulih dan investasi bisa kembali masuk ke Tanah Air,” pungkasnya. (Ins/I-1)

BERITA TERKAIT