20 September 2020, 03:49 WIB

Belanja SDM Tingkatkan Indeks Modal Manusia


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

KEPALA Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan alokasi belanja untuk penguatan sumber daya manusia telah membantu memperbaiki indeks modal manusia (human capital index/HCI) Indonesia pada 2020.

“Hasil belanja negara untuk human capital sudah mulai terlihat,” kata Febrio dalam pernyataan di Jakarta, kemarin.

Hal itu diungkapkannya menanggapi laporan Bank Dunia, The Human Capital Index 2020 Update: The Human Capital in the Time of Covid-19. Laporan itu menyatakan adanya kenaikan nilai HCI Indonesia pada 2020 menjadi 0,54 dari sebelumnya 0,53 pada 2018.

HCI merupakan salah satu program Bank Dunia yang didesain untuk menjelaskan bagaimana kondisi kesehatan dan pendidikan dapat mendukung produktivitas generasi yang akan datang. Indeks ini mengombinasikan komponen-komponen probabilitas hidup hingga usia lima tahun (survival), kualitas dan kuantitas pendidikan, serta kesehatan, termasuk isu stunting.

Febrio mengungkapkan komponen survival meningkat menjadi 0,98 dari sebelumnya 0,97, sedangkan kualitas pendidikan sebesar 395. Pada sisi lain, durasi waktu sekolah anak Indonesia berada pada 7,8, turun dari sebelumnya 7,9.

Untuk komponen kesehatan, terdapat kenaikan yang cukup signifi kan, dari 0,66 menjadi 0,72. Angka ini menggambarkan terjadinya kenaikan jumlah anak yang tidak mengalami stunting serta mengalami keterbatasan kognitif dan fi siknya.

Skor HCI 2020, kata Febrio, diolah berdasarkan data baru dan diperluas untuk tiap-tiap komponen hingga Maret 2020.

“Dengan demikian, laporan tersebut belum memperhitungkan dampak covid-19 pada human capital. Meskipun demikian, laporan ini memberikan gambaran nyata atas hasil dari upaya-upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas human capital,” jelas Febrio.

Pemerintah, sebutnya, bakal terus meningkatkan human capital, selain melalui alokasi 20% anggaran untuk pendidikan, meningkatkan kualitas guru dan manajemen sekolah dan proses belajar mengajar peserta didik.

Lalu, memberikan perhatian besar pada pendidikan vokasi untuk menghadapi revolusi industri 4.0, teknologi informasi, dan partisipasi sektor swasta dalam pendidikan.

Mengkhawatirkan

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov berpendapat kenaikan HCI Indonesia itu masih mengkhawatirkan.

“Membaca rilis terbaru Bank Dunia tentang HCI Indonesia yang hanya naik 0,1 poin sebelum masa pandemi rasanya cukup mengkhawatirkan. Apalagi, hasil studi tersebut sama sekali belum menggambarkan dampak luar biasa dari covid-19,” jelas Abra kepada Media Indonesia.

Ia mengungkapkan, skor HCI Indonesia ternyata masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Thailand (0,61), Malaysia (0,61), Brunei Darussalam (0,63), Vietnam (0,69), dan Singapura (0,88).

Abra juga menyoroti komponen-komponen HCI yang patut diperhatikan pemerintah. (E-3)

BERITA TERKAIT