19 September 2020, 22:14 WIB

Permintaan Menurun, Pertumbuhan Kredit Usaha Rendah


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

KEPALA Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto mengungkapkan laju pertumbuhan kredit masih rendah di tengah pandemi. Menurutnya, permintaan kredit yang belum kuat disebabkan permintaan riil atau real demand yang minim.

Menurutnya, dengan adanya pandemi covid-19 yang dibarengi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta dan wilayah Jawa lainnya, membuat masyarakat berpenghasilan tetap dan mapan membatasi tindakan konsumsi.

"Ini pun tercermin dari inflasi tahunan dan tahun berjalan yang rendah karema minimnya permintaan," jelas Ryan kepada Media Indonesia, Jakarta, Sabtu (19/8).

Ryan menekankan, persoalan rendahnya pertumbuhan kredit bukan dari sisi perbankan atau supply side. Ia mengatakan, likuiditas dan modal bank sangat mencukupi.

"Karena demand yang belum kuat yang membuat permintaan kredit pun belum kuat atau tumbuh relatif rendah, meskipun BI rate dan suku bunga kredit sudah turun," jelas Ryan.

Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan Bidang Perbankan itu berpendapat, yang harus didorong adalah kenaikan permintaan riil di masyarakat sehingga pengusaha akan datang ke bank untuk minta kredit.

Baca juga : Kemenkeu RI dan AS Perkuat Kerja Sama Pembiayaan Infrastruktur

Salah satu kuncinya, ungkap Ryan, adalah belanja pemerintah pusat dan pemda yang mesti digenjot dan dipercepat serapannya untuk menciptakan permintaan riil.

"Tentu aktivitas ekonomi dan perbankan tersebut harus selalu dalam koridor protokol kesehatan yang kuat dan disiplin sehingga ekonomi bergairah dan kesehatan masyarakat terjaga," tukas Ryan.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, rendahnya pertumbuhan kredit karena masyarakat yang enggan mengambil risiko tinggi saat membuka usaha.

"Karena risiko usaha meningkat, maka risiko kredit macet pun meningkat. Dengan demikian minat pelaku usaha terhadap kredit perbankan pun menurun," jelas Faisal.

Diketahui, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga di level 4,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Kamis (17/9) lalu dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Ada penurunan bunga kredit modal kerja dari 9,47% pada Juli 2020 menjadi 9,44% pada Agustus 2020. Namun, penurunan suku bunga itu belum diikuti dengan peningkatan permintaan kredit. Data pada Juli 2020 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan kredit sangat rendah, yakni hingga 1,53%. (OL-7)

BERITA TERKAIT