19 September 2020, 14:20 WIB

Melaju hingga Pelosok Memastikan BBM Satu Harga di Sumsel


Dwi Apriani | Nusantara

HARGA dan kualitas bahan bakar minyak (BBM) menjadi hal penting bagi konsumen Pertamina. Luasnya wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel) membuat masyarakat kesulitan menjangkau stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) BBM resmi.

Salah satunya, di Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara. Puluhan tahun, warga dari satu kelurahan dan 10 desa yang ada di Kecamatan Nibung harus menempuh jarak sekitar 45 kilometer untuk bisa menggapai pelayanan SPBU di pusat kota Musi Rawas Utara.

Tidak hanya jauh, masyarakat juga harus melalui jalanan yang tidak nyaman dan menerobos perkebunan dan hutan yang sepi. Apalagi, cukup banyak tindak kriminal di area tersebut. Sementara, BBM sangat dibutuhkan karena umumnya warga adalah petani karet, kelapa sawit, pinang yang membutuhkan mobilitas tinggi dengan sepeda motor dan mobil untuk mendukung perkebunan mereka. Alhasil harga BBM di sana naik lebih dari dua kali lipat dari harga resmi Pertamina.

Namun, sejak November 2018 kesulitan tersebut dijawab Pertamina dengan pembangunan SPBU BBM satu harga yang berada di Desa Jadi Mulya, Kecamatan Nibung itu. Sales Branch Manager IV Sumsel Babel Pertamina MOR II Sumbagsel, Adamilyara Aqil mengatakan, pihaknya memastikan masyarakat bisa mendapatkan pemerataan distribusi BBM, meski berada di wilayah pelosok.

"Memang sejalan dengan butir Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Pertamina juga terus berupaya untuk memeratakan distribusi BBM di seluruh daerah. Tidak hanya masyarakat kota yang bisa mendapatkan BBM dengan harga sesuai ketentuan pemerintah, di daerah pelosok juga bisa mendapat kemudahan yang sama, diantaranya dengan kami membangun BBM Satu Harga,” jelas Aqil.

Di Musi Rawas Utara ini, sudah dibangun BBM satu harga di Kecamatan Nibung sejak akhir 2018. Dan dari hasil evaluasi, saat ini konsumsi harian di SPBU Kompak 25.316.30 itu sudah mencapai 11 KL per hari untuk semua jenis produk yang dijual. Adapun produknya yakni Pertalite, Premium, Dexlite dan Bio Solar.

“Setiap hari kita distribusikan BBM ke SPBU ini, menyesuaikan kebutuhan BBM apa yang kosong atau hampir habis. Disini konsumsinya cukup besar, karena memang SPBU lain cukup jauh dicapai oleh masyarakat desa tersebut,” jelas Aqil.

Diakuinya, untuk pendistribusian BBM dari Depot Pertamina di Lubuklinggau ke SPBU tersebut harus melewati 120 kilometer. Atau harus menempuh sekitar 4-5 jam, menyesuaikan dengan kondisi jalan dan cuaca.

“Jaraknya jauh dari Depot Pertamina kita di Lubuklinggau. Jadi memang untuk ke lokasi ini, butuh sekitar 5 jam. Jika hujan, jalannya rusak dan butuh waktu lebih dari itu. Untuk pendistribusiannya adalah tanggungjawab Pertamina. Tapi untuk pengelolaan SPBU adalah kewenangan pengusaha,” jelasnya.

Aqil menuturkan, SPBU BBM satu harga ini merupakan salah satu komitmen Pertamina untuk membantu pemerintah dalam pemerataan energi. Namun untuk penentuan lokasi BBM Satu Harga ini, kata dia, adalah kewenangan pemerintah pusat.

Hanya saja, Aqil menambahkan, jika dilihat dari lapangan, SPBU Satu Harga di Muratara ini sangat tepat karena masyarakat di Kecamatan Nibung ini banyak sehingga pangsa pasarnya menjanjikan. Selain itu juga karena sebelumnya harga BBM yang dijual eceran di Kecamatan tersebut cukup tinggi, untuk Premium saja dijual diatas Rp8.000 per liter dan Pertalite diatasRp10.000 per liternya.

“Agar masyarakat bisa mendapatkan BBM dengan harga yang sama di kota, inilah fungsi dan manfaat adanya SPBU BBM Satu Harga. Dulu, agar masyarakat bisa dapat BBM dengan harga yang sama, mereka harus tempuh jarak yang jauh, tapi sekarang tidak lagi. Cukup kita yang mensuplai BBM kesini,” terang Aqil.

Ditambahkan Region Manager Communication Relations & CSR PT Pertamina Sumbagsel, Dewi Sri Utami, BBM Satu Harga sudah menjadi penugasan Pertamina untuk memastikan pemerataan energi di wilayah terdepan, terluar dan terpencil.

“BBM Satu Harga juga memiliki tujuan dalam memajukan perekonomian dan kemakmuran bagi masyarakat. Dengan adanya program ini, masyarakat di Kecamatan Nibung, Muratara, bisa mendapatkan BBM yang harganya sesuai dengan pemerintah dan kualitas BBMnya terjamin,” jelas Dewi.

Tahun ini, kata dia, Pertamina Sumbagsel mendapatkan tugas dari Pemerintah untuk membangun 15 titik BBM Satu Harga di Sumbagsel. Yakni menyebar ada 3 titik di Bengkulu, 7 titik di Lampung dan 5 titik di Sumsel.

“Tugas kita adalah membangun 15 titik BBM Satu Harga. Di wilayah kita sendiri sudah ada 4 titik BBM Satu Harga yang sudah beroperasi sejak 2018 diantaranya di Musi Banyuasin, Bengkulu Utara, Lampung Barat dan Musi Rawas Utara,” jelas Dewi.

Manager SPBU Kompak 25.316.30, Muhammad Yani mengatakan, keberadaan BBM Satu Harga di Kecamatan Nibung sangat memberikan kemudahan bagi masyarakat. Sebab, masyarakat yang rata-rata bekerja sebagai petani, tidak perlu membeli BBM dengan harga tinggi, dan tidak lagi harus jauh-jauh menggapai SPBU di kota.

SPBU tersebut beroperasi mulai pukul 07.30 hingga 17.00 WIB. Namun karena seringnya konsumen datang seusai pulang berkebun, yakni diatas jam operasional, pihak SPBU pun tetap melayani mereka.

“Tetap kami layani mereka. Biasanya pulang dari berkebun dan bertani itu di atas pukul 17.00 WIB, tapi saya selalu menekankan kepada operator untuk tetap layani mereka,” jelasnya.

Keterbatasan jam operasional itu, kata Yani, dikarenakan faktor tidak adanya aliran listrik ke SPBU tersebut. Sehingga dalam mengoperasionalkan SPBU, pihaknya menggunakan genset.

“Perhari kita keluarkan sekitar Rp200.000 untuk membeli bahan bakar keperluan genset. Memang pengeluaran kita cukup banyak, tapi ini demi masyarakat juga. Jadi kami tetap memberikan pelayanan terbaik dalam pengisian BBM,” pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Pertamina Jamin Pasokan BBM Satu Harga di Wilayah 3T

BERITA TERKAIT