19 September 2020, 06:15 WIB

Menjadi Alternatif Pembiayaan bagi UMKM


(Mir/E-3) | Ekonomi

PEMBIAYAAN bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah banyak tersedia. Bahkan, pemerintah telah mengalokasikan kredit usaha rakyat (KUR) mencapai Rp190 triliun dengan bunga 6% tahun ini.

Belum lagi tersedia pinjaman dari Badan Layanan Umum (BLU) hingga Rp30 triliun. Namun, pada kenyataannya belum seluruh UMKM dapat mengakses pembiayaan yang disediakan pemerintah

Oleh karena itu, diperlukan alternatif saluran pembiayaan. Salah satu yang bisa diper-timbangkan ialah melalui perusahaan finan-cial technology atau fintech. “Sebelum covid-19, rapat Kabi-net pernah membahas alternatif pembiayaan untuk UMKM, ter utama untuk usaha mikro dan kecil, yang tidak memiliki aset sebagai modal in-vestasi,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengutip dari siaran resmi beberapa waktu lalu.

Teten mengakui banyak perusahaan fi ntech yang sudah membantu usaha mikro dan kecil yang unbankable. Pemerintah, melalui OJK, juga sudah banyak memberikan izin bagi perusahaan fintech.

Bila itu disinergikan, manfaatnya bagi UMKM akan terasa hingga bisa naik kelas.Wakil Ketua Umum Kadin Indone-sia Bobby Gafur menyatakan banyak UMKM yang belum mampu mengakses dana perbankan karena sulitnya memenuhi persyaratan, terutama ter-kait dengan agunan. “

Dengan adanya perusahaan fi ntech, seharusnya riskprofi le di perbankan akan terpotong. Di marketplace, kita bisa melihat kinerja UMKM dari trading history yang sudah dihasilkan,” kata Bobby.

Dengan analisis digital di market-place, fi ntech merupakan pintu baru bagi UMKM untuk dapat mengakses permodalan. Bahkan, Bobby menya-rankan, bank pelaksana KUR dapat bekerja sama dengan perusahaan fintech mengatasi kesulitan UMKM untuk mengakses KUR.

Permasalahan akses kredit terhadap UMKM ini mendesak untuk diselesaikan.Pasalnya, krisis akibat covid-19 berbeda dengan krisis di medio 1998. Kala itu, UMKM berhasil menjadi fondasi perekonomian.

Namun, kini justru UMKM menjadi sektor yang pa-ling terdampak, baik dari sisi pasokan maupun permintaan. Oleh karenanya, industri fintech perlu dioptimalkan guna dipercaya lebih jauh dalam me-nyalurkan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) besutan pemerintah.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi mengatakan, pemulih-an ekonomi akibat pandemi covid-19 membutuhkan waktu agak panjang sehingga dibutuhkan kecepatan untuk menyalurkan pembiayaan agar likuidi-tas keuangan tetap terjaga di UMKM.

Akan tetapi, UMKM mempunyai akses keuangan terbatas, sedangkan pemu-lihan ekonomi berlangsung lama se-hingga tambahan modal jadi penting.“Yang dibutuhkan UMKM di tengah pandemi ini ialah relaksasi dan re-strukturisasi kredit, akses keuangan, dan kecepatan,” katanya.

Dia menilai fintech lending memi-liki keunggulan untuk bisa melayani hal tersebut. Beberapa modal penting perusahaan fintech lending, antara lain dari sisi kecepatan, contactless, pendataan yang mutakhir, dan sistem creditscoring yang efektif karena berbasis teknologi.“Industri fintech sebetulnya sudah mampu ikut terlibat mendorong pemulihan ekonomi nasional, ter-utama berperan serta dan aktif membantu pemulihan ekonomi nasional.

Dengan impak lebih besar lagi, pemulihan ekonomi pun bisa lebih cepat,” tutur Adrian.DioptimalkanKepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Nonbank (IKNB) Otoritas Jasa Ke-uangan (OJK) Riswinan-di mengakui beberapa kelebihan fintech lendingmemang bermanfaat dalam membantu memulihkan ekonomi.

Namun, OJK selaku regulator menilai ekosistem fintech lending masih perlu dioptimalkan untuk supervisi yang lebih baik.Misalnya, dengan mendorong semua pelaku yang berizin dan terdaftar un-tuk bergabung dalam ekosistem fintech datacenter. Sejauh ini sudah ada 33 pelaku fi ntech yang berizin dan 124 pelaku fintech terdaftar.Ia melanjutkan fi ntech lending me-mang punya potensi besar menyalurkan PEN karena jangkauan lebih luas dan fl eksibilitas dalam mengandalkan teknologi.

Namun, kapasitas tiap-tiap perusahaan masih perlu jadi perha-ian. Contohnya, dalam distribusi surat berharga negara (SBN), baru segelintir fintech lending yang mau, mampu, dan dipercaya sebagai mitra distribusi pemerintah.Menurut dia, hal paling memung kin-kan dalam konteks pelibatan industri fi ntech lending dalam penyaluran dana PEN ialah memanfaatkan data UMKM demi efektivitas penyaluran PEN agar lebih tepat sasaran. (Mir/E-3)

BERITA TERKAIT