19 September 2020, 06:55 WIB

Potensi Besar Industri Fintech Syariah


M ILHAM RAMADHAN | Ekonomi

KEBERADAAN industri financial technology (fintech) syariah kian merebak untuk menjawab kebutuhan pembiayaan pengguna yang menginginkan sistem berbasis syariah di Tanah Air.

Industri fintech syariah pertama kali muncul pada 2018 dan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Desember 2019 industri fi ntechsyariah telah memiliki 13.953 pengguna dan kemungkinan terus bertambah. Saat ini terdapat 12 industri fintech syariah yakni Alami, Ethis, Qazwa, BSalam, Kapitalboost, Duha, Syarfi , Berkah, Dana Syariah, Papitupi, Ammana, serta Danakoo Syariah dan 1 penyelenggara fintech lending yang memiliki produk syariah yakni In-vestree.

Hingga Desember 2019, akumulasi rekening lender (agregat) dari penyeleng-gara fintech lending syariah sebanyak 21.451 entitas. Sementara akumulasi rekening borrower (agregat) mencapai angka 9.982 entitas.

Di samping itu, jumlah akumulasi transaksi lender(agregat) telah mencapai angka 46.645 transaksi dengan jumlah akumulasi transaksi borrower (agregat) telah mencapai angka 11.472 transaksi.

Adapun akumulasi to-tal penyaluran (agregat) dari penyelenggara fintech lending syariah telah mencapai angka Rp509,02 miliar dengan outstandingRp284,71 miliar. Dari angka-angka tersebut diketahui jumlah transaksi borrower 14,93% lebih banyak daripada jumlah akumulasi rekening borrower.

Hal ini menggambarkan terdapat transaksi berulang yang dilakukan borrower serta menunjukkan kebutuhan dan manfaat yang diperoleh borrower atas transaksi sebelumnya.Tak heran dengan capaian kinerja tersebut, Wakil Presiden Ma’ruf Amin terus mendorong agar fintech syariah bertumbuh.

Selain meningkatkan inklusivitas keuangan, industri fintech syariah juga diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi covid-19.

“Kita harapkan (fintech syariah) ini akan turut mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional yang sedang menurun disebabkan penyebaran covid-19.

Seperti diketahui, ekonomi kita di kuartal kedua ini terkontraksi minus 5,32%,” ujar Ma’ruf dilansir dari Antara.

Sedianya industri fi ntech syariah memiliki potensi besar dan menjanjikan bagi industri keuangan dan perekonomian nasional. Sebab, mayoritas penduduk Indonesia ialah penduduk muslim yang tentunya erat dengan sistem syariah.

Oleh karena itu, Ma’ruf menilai perlu adanya peningkatan literasi keuangan dan ekonomi syariah kepada ma-syarakat.“Selain potensi market yang cukup besar, dengan meningkatnya literasi syariah juga diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk pemanfaatan ekonomi syariah yang lebih besar lagi,” tuturnya.

Faktor pendukung

Senada, Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wi-jaya menilai literasi mengenai keuangan dan ekonomi syariah merupakan kunci penting untuk mendorong pertumbuhan fintech syariah.

Apalagi saat ini banyak fak-tor pendukung yang dapat memuluskan laju pertumbuhan tersebut.“Indonesia kan peluangnya juga besar untuk bisa mengembangkan keuangan syariah, bahkan belakangan ini sudah ada isu soal merger bank syariah, kemudian Wakil Presiden kita juga orang ekonomi syariah.

Jadi banyak faktor yang bisa mendorong agar ini lebih eksponensial lagi, kami tetap optimistis, tapi memang saat ini memang perlu literasi kepada ma-syarakat. Itu menjadi pa-rameter utama karena pemahaman di masya-rakat mengenai syariah tergolong masih rendah,” ujarnya saat dihubungi, Senin (14/9).

Kendati demikian, Ronald mengakui pertum-buhan industri fintechsyariah membutuhkan waktu. Apalagi bila di-bandingkan dengan per-tumbuhan industri fintechkonvensional yang telah lebih dulu menjamur di Tanah Air.

Perlahan tapi pasti, kata dia, fintech syariah akan menjadi sektor keuangan yang bisa memiliki peran besar dalam men-gakselerasi industri keuangan dan perekonomian nasional.

“Kita (fintech syariah) masih banyak PR untuk bisa mengembangkan. Karena rasio jumlah pemain fi ntech syariah itu kalah cu-kup jauh. Saat ini sekitar 350 fi ntech yang boleh beroperasional sedangkan fintechsyariah baru ada 24 yang beroperasional.

Secara rasio itu tidak sampai 8% jumlah pemain fi ntech syariah,” terangnya.Sementara itu, Founder & CEO Alami Dima Djani menuturkan potensi dan peluang dari keberadaan industri fintech syariah pada keuangan dan perekonomian nasional amat besar.

Alami yang berfokus membiayai usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) meng-alami peningkatan penyaluran pembiayaan yang signifi kan meski di tengah pandemi.“Kalau dari Alami memang kita saat ini ber-tumbuh pesat, dari sisi penyaluran pembiayaan pada Agustus kita paling tinggi sekitar Rp20 miliar lebih.

Jadi itu meningkat tinggi, meski di tengah pandemi. Pertumbuhan na-sabah yang membiayai juga tumbuh kencang, traction mobile apps itu sudah mengalahkan pertumbuhan nasabah dari website,” terangnya kepada Media Indonesia. (Mir/E-3)

BERITA TERKAIT