19 September 2020, 06:45 WIB

Saling Melengkapi dengan Industri Keuangan Konvensional


DESPIAN NURHIDAYAT | Ekonomi

FINANCIAL technology (fintech) atau teknologi keuangan sering kali mendapatkan stigma negatif dari berbagai kalangan. Bahkan, tak jarang fintech dianggap sebagai ancaman bagi industri keuangan konvensional atau perbankan.

Namun, stigma tersebut tidak benar adanya. Nyatanya, perbankan dan fi ntech dapat melakukan kemitraan untuk mendukung ekonomi keuangan digital yang inklusif khususnya bagi pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah).

Kepala Departemen Kebijakan Sis-tem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta menyatakan pihaknya ingin masyarakat bukan sekadar membuka rekening atau memakai digitalpayment, melainkan juga mendapatkan akses pendanaan secara formal.

Menurutnya, hal itu sesuai dengan visi cetak biru Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025 sehingga BI tidak hanya menjadi navigasi sistem pembayaran, tetapi juga mendorong ekonomi digital yang inklusif.“

Di pasar keuangan perbankan mendominasi sekitar 85% sehingga menjadikan perbankan pemain besar sekaligus pemain utama dalam melaku kan transformasi digital. Di sisi lain, juga hadir fintech yang memiliki ekosistem digital cerdas sehingga an-tara perbankan dan fi ntech diharap-kan saling berkolaborasi,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (3/9).

Filianingsih menilai bahwa fintech memiliki ekosistem yang agile. Semen-tara itu, perbankan memiliki pendana-an yang murah dan risk managementyang lebih prudent. Hal ini tentunya mampu dimanfaatkan dan mendorong interlink untuk kepentingan masya-rakat

Hal itu diamini Wakil Direktur U tama Bank Mandiri Hery Gunardi. Ia mengungkapkan pihaknya sudah menjalin kolaborasi dengan fintech khususnya dalam penyaluran kredit.“

Penyaluran kredit produktif untuk seller e-commerce melalui kerja sama kami dengan mitra e-commerce sebanyak Rp113 miliar. Ini tahap awal kami masih belajar untuk melihat perkembangannya dan apa yang perlu diperbaiki ke depan,” kata Hery.

Senada dengan Hery, Presiden Di-rektur BCA Jahja Setiaatmadja menga-takan pihaknya menjalin kolaborasi dengan fintech karena memberikan keuntungan ketika nasabah melaku-kan isi ulang dalam dompet digital sehingga menjadi terobosan baru yang tidak dibayangkan lima tahun lalu.“

Bagi bank, fintech ialah sahabat saling mengisi, bukan saling bersaing meski ada beberapa sisi overlap, bahwa nanti openbanking kami dibantu fintech, tetapi fintech juga bisa mempunyai keinginan untuk buka rekening sendiri misalnya,” tegas Jahja.

Dalam hal ini, pemerintah juga me-nyatakan terus berupaya mendorong UMKM di Indonesia segera memasuki dunia digital atau biasa disebut UMKM godigital. Untuk mempercepat langkah itu, pemerintah akan menggandeng fintech peer to peer (P2P) lending.

Deputi Bidang Pembiayaan Kemen-terian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman mengatakan saat ini pemerintah tengah menggodok regulasi untuk dapat mengikutsertakan P2P lending dalam upaya UMKM godigital.“

Terkait dengan fintech, memang kita berkeinginan (mengikutserta-kan). Namun, saat ini masih belum memungkinkan dalam program kita karena masih ada regulasi yang harus kita selesaikan,” ujar Hanung, Jumat (4/9).Hanung mengatakan di antara regulasi itu sampai saat ini yang bisa diterima dalam audit penyaluran bantuan pemerintah itu masih melalui perbankan.

“Itu juga (bank) tertentu yang sudah disetujui pemerintah,” sambungnya.Hanung mengakui memang masih ada hambatan regulasi yang harus segera diselesaikan pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan sampai saat ini pemerintah belum bisa secara langsung memberikan pembiayaan melalui fintech, seperti restrukturisasi kredit

Meskipun demikian, Hanung mene-gaskan bukan berarti pemerintah tidak mau berkolaborasi dengan fi ntech P2P lending. Dia berharap pemerintah segera melakukan langkah cepat untuk berkolaborasi dengan fintech guna mempercepat UMKM godigital dan juga penyaluran beragam stimulus, khususnya untuk UMKM.

Dia mengatakan memang program utama Kemenkop dan UKM saat ini mendorong UMKM godigital. Namun, dalam praktiknya tidak mudah lantaran tidak semua UMKM punya kemampuan masuk ke ekosistem digital.“

Maka dari itu, saya rasa perlu segera dilakukan kolaborasi antara pemerintah dan fintech agar bisa ter-bentuk suatu ekosistem yang utuh di Indonesia saat ini,” pungkas Hanung. (E-3)

BERITA TERKAIT