19 September 2020, 04:10 WIB

Perang Bintang di Stamford Bridge


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

TIMO Werner merupakan salah satu calon bintang sepak bola Jerman di masa depan. Meski usianya masih 24 tahun, ia sudah membuat torehan besar di Bundesliga. Werner adalah pemain VfB Stuttgart termahal ketika ditarik RB Leipzig pada 2016. Leipzig berani mengeluarkan dana 10 juta euro untuk mesin gol itu.

Tidak hanya itu, Werner merupakan pemain termuda yang bisa 50, 100, 150, dan 200 kali tampil di ajang Bundesliga. Leipzig tidak bisa
membangkucadangkan penyerang dengan postur badan 180 cm itu karena ia merupakan jaminan untuk menyumbangkan gol.

Rekor kecepatan tampil di ajang Bundesliga itu kemudian dipatahkan oleh pemain asal Bayer Leverkusen, Kai Havertz. Pemain yang disebut-sebut sebagai Zinedine Zidane muda itu menjadi pusat perhatian pecinta sepak bola karena gaya permainannya yang indah. Havertz menjadi bintang andalan Leverkusen.

Kedua bintang muda harapan Jerman tersebut kini berkumpul di Chelsea. Pekan lalu mereka sudah mulai unjuk kemampuan saat membela the Blues bertandang ke tempat Brighton. Meski tidak menyumbangkan gol, keduanya memberi kontribusi bagi kemenangan Chelsea 3-1 di pertandingan perdana.

Besok malam, Werner dan Havertz akan memulai debut di Stamford Bridge. Tidak tanggung-tanggung, mereka harus bertemu juara bertahan, Liverpool. Perang bintang pun langsung terjadi pada pertandingan kedua musim kompetisi ini.

Werner mengakui tim yang harus dihadapi besok malam merupakan salah satu tim terbaik di dunia. “Liverpool bukan hanya memiliki Virgil van Dijk. Banyak pemain bintang di sana. Mereka begitu kuat sehingga hanya sedikit kebobolan di musim lalu. Tetapi kami juga memiliki banyak pemain yang bagus dan mempunyai kemampuan untuk mengalahkan mereka,” kata Werner.

Ujung tombak baru Chelsea itu membenarkan bahwa Liverpool ialah salah satu klub yang juga mengincarnya dari Leipzig. Akan tetapi, ia memilih Chelsea karena cara pendekatan pelatih Frank Lampard yang berbeda dan suasana tim yang menyenangkan.

“Tidak mudah bagi saya untuk meninggalkan Leipzig. Tetapi saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Chelsea karena pelatih Lampard begitu intensif untuk berkomunikasi, selalu mengirimkan pesan, dan menjelaskan sepak bola seperti apa yang akan dimainkan dan di mana saya bisa berperan,” kata Werner yang merasa, inilah keputusan terbaik yang ia ambil.

Lampard membawa pendekatan yang berbeda di musim kompetisi kali ini. Ia memilih pola 4-2-3-1 yang efektif dimainkan Bayern Muenchen dan akhirnya membawa klub Jerman itu mencetak treble kedua di musim lalu.

Saat menghadapi Brighton, Lampard menempatkan Jorginho dan N’Golo Kante sebagai dua pilar penyangga di tengah.

Mereka tidak hanya bisa menjadi orang pertama yang mematahkan serangan lawan, tetapi mempunyai visi untuk membantu serangan. Kualitas mereka tidak kalah dari duet pemain Bayern, Thiago Alcantara dan Joshua Kimmich atau Leon Goretzka.

Havertz ditempatkan Lampard sebagai gelandang serang yang bermain dari sayap. Ia dimainkan bersama Mason Mount dan Ruben Loftus-Cheek untuk penopang yang menjadi ujung tombak tunggal.

Menghadapi Liverpool besok, Lampard perlu melakukan perbaikan karena Liverpool mempunyai daya serang yang lebih tajam. Ia perlu memainkan Mateo Kovacic untuk menggantikan Jorginho karena pemain Kroasia ini lebih tidak mengenal kompromi sehingga bisa merusak permainan ‘Tim Merah’.

Havertz harus lebih aktif untuk menekan lewat sayap. Ini akan bisa memberi dua manfaat kepada Chelsea. Pertama, gempuran the Blues akan bisa lebih gencar dan membuka lebih banyak peluang bagi Werner untuk mencetak gol. Kedua, aksi Havertz akan membuat bek kiri Liverpool Andrew Robertson tidak bebas untuk keluar menyerang.

Apalagi, kalau Mount juga berani untuk lebih aktif keluar menyerang dari sayap kiri. Ini akan membuat bek kanan ‘Tim Merah’, Trent Alexander-Arnold, tidak bisa sesuka hati meninggalkan posisinya. Lampard punya gelandang baru asal Ajax yang bisa memainkan peran itu, yakni pemain asal Maroko, Hakim Ziyech.

Memang tugas terberat harus dipikul empat pemain belakang. Formasi tradisional yang biasa dipakai Lampard untuk membantu kiper Kepa Arrizabalaga ialah menempatkan kuartet Marcos Alonso, Kurt Zouma, Andreas Christensen, dan Reece James. Kali ini pelatih Chelsea itu
memiliki banyak pilhan karena ada center-back asal Brasil Thiago Silva dan bek kiri asal Leicester City Ben Chilwell.

Lampard mempunyai kesempatan untuk menunjukkan Stamford Bridge bukanlah kuburan bagi Chelsea. Di musim lalu, the Blues justru sering tersandung ketika tampil di kandang sendiri. Ia harus membalikkan lagi bahwa Stamford Bridge justru merupakan kuburan bagi tim tamu.

Rapuh di belakang

Meski mampu meraih kemenangan pertama di Anfield, Liverpool tidak sesuperior seperti di musim lalu. Barisan belakang ‘Tim Merah’ masih banyak kelemahan sehingga tiga kali kebobolan oleh penyerang Leeds United.

Kalau tidak ada dua penalti Mohamed Salah bisa-bisa Liverpool menelan pil pahit dalam upayanya mempertahankan gelar. Beruntung Mo-Salah tampil gemilang untuk langsung mencetak hattrick dan membawa ‘Tim Merah’ meraih kemenangan 4-3 atas tim promosi, Leeds.

Pelatih Juergen Klopp mempunyai pekerjaan rumah untuk memperbaiki jantung pertahanan. Van Dijk belum juga menemukan permainan terbaiknya sehingga sering terlambat untuk menghentikan terobosan pemain lawan. Joe Gomez yang mendampinginya juga sering terlambat untuk menutupi kebocoran.

Lemahnya jantung pertahanan menjadi malapetaka bagi kiper Alisson Becker. Kiper asal Brasil itu sering kali harus berhadapan langsung dengan penyerang-penyerang lawan.

Klopp perlu memikirkan untuk menempatkan Fabinho sebagai starter. Kehadiran gelandang asal Brasil itu akan bisa membuat Liverpool mampu menjaga keseimbangan tim. Saat menghadapi Leeds, tidak ada pemain yang menjaga kedalaman bermain sehingga pemain lawan bisa langsung menembus jantung pertahanan ‘Tim Merah’.

Kehadiran Fabinho akan membuat kapten kesebelasan Jordan Henderson bisa fokus membantu penyerangan. Apa boleh buat Naby Keita kembali harus dibangkucadang kan dan Georginio Wijnaldum membantu Henderson mengalirkan bola untuk trio Mo-Salah, Robero Firmino, dan Sadio Mane.

Liverpool tidak mempunyai persoalan di barisan depan. Trio Fir-Man-Sah justru semakin padu setelah tiga musim selalu bersama. Klopp selalu memberi kesempatan bagi ketiganya untuk bermain bersama sehingga pengertian di antara ketiganya semakin terbangun.

Hanya, semua ketajaman di depan tidak akan ada artinya kalau lemah di belakang. Hasil pertandingan akhirnya ditentukan berapa banyak
gol lawan yang bisa dicegah. Cukup satu gol yang dicetak sepanjang bisa menggagalkan semua peluang yang dimiliki tim lawan.

Klopp memuji penampilan Mo Salah yang terus menunjukkan penampilan yang meningkat. Apa yang diperlihatkan saat bertamu ke kandang Leeds United merupakan salah satu penampilan terbaik dari Mo-Salah ataupun tim asuhannya. “Saya berharap bisa terus berlanjut,” kata pelatih asal Jerman tersebut.

BERITA TERKAIT