19 September 2020, 02:10 WIB

Covid-19 Tingkatkan Risiko Perdamaian


Faustinus Nua | Internasional

SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan pada Kamis (17/9) bahwa pandemi covid-19 meningkatkan risiko perdamaian di manamana.

“Ini (pandemi) ancaman besar bagi pihak-pihak yang terjebak dalam konflik, itulah sebabnya saya segera mengajukan seruan untuk gencatan senjata global,” kata pemimpin PBB itu pada upacara lonceng perdamaian PBB pada kesempatan peringatan ke-39 Hari Perdamaian Internasional, yang dirayakan di seluruh dunia setiap tahun pada 21 September.

“Saya akan mengulangi seruan selama Debat Umum minggu depan. Kita perlu membungkam senjata dan fokus pada musuh kita bersama: virus,” katanya seperti yang dilansir Xinhua.

Pertemuan tahunan para pemimpin dunia PBB dilakukan secara virtual tahun ini untuk pertama kalinya dalam 75 tahun karena pandemi covid-19. Hari pertama Debat Umum ialah pada 22 September.

“Butuh beberapa dekade, bahkan berabadabad, untuk membangun masyarakat yang damai dan stabil. Namun, perdamaian dapat
disia-siakan dalam sekejap oleh kebijakan dan pendekatan yang sembrono dan memecah belah,” kata pemimpin PBB itu.

“Di luar zona perang, pandemi menyoroti dan mengeksploitasi semua jenis ketidaksetaraan, membuat komunitas dan negara
bertentangan,” kata Guterres. 

Dia menyerukan upaya mendorong perdamaian di mana pun konflik berkecamuk dan di mana pun ada peluang diplomatik untuk membungkam senjata. Acara lonceng perdamaian disiarkan secara global melalui siaran langsung, dengan pemimpin PBB dan Presiden Majelis Umum PBB yang baru, Volkan Bozkir, berdiri di podium yang berjarak tepat, sejalan dengan tindakan covid-19.


Desak miliarder

Badan PBB untuk Program Pangan Dunia (WFP) mendesak para miliarder dunia untuk membantu menyelamatkan sekitar 30 juta orang yang berisiko meninggal jika mereka tidak menerima bantuan dari organisasi tersebut.

Secara global, sekitar 270 juta orang berada di ambang kelaparan dan WFP mengharapkan dapat menjangkau 138 juta orang tahun ini.

“Kami membutuhkan US$4,9 miliar untuk memberi makan, selama satu tahun, untuk semua 30 juta orang yang akan meninggal tanpa bantuan WFP,” kata Kepala WFP David Beasley kepada Dewan Keamanan PBB.

Untuk itu, dia mencatat bahwa ada sekitar 2.000 miliarder dengan kekayaan bersih US$8 triliun dan beberapa di antaranya menghasilkan miliaran selama pandemi. Mereka diharapkan dapat membantu badan pangan tersebut.

“Saya tidak menentang orang yang menghasilkan uang, tetapi umat manusia sedang menghadapi krisis terbesar yang pernah kita lihat dalam hidup kita,” kata mantan Gubernur Carolina Selatan itu.

Kekayaan gabungan miliarder Amerika melonjak lebih dari 19% atau setengah triliun sejak wabah pandemi virus korona baru di AS, menurut sebuah laporan yang diterbitkan Institute for Policy Studies (IPS) pada Juni.

Dalam 11 minggu sejak 18 Maret, ketika karantina wilayah dimulai di beberapa negara bagian AS, pendiri Amazon.com Inc Jeff Bezos mencatat kekayaannya melonjak sekitar US$36,2 miliar, sementara kekayaan CEO Facebook Inc Mark Zuckerberg melonjak sekitar US$30,1 miliar. Kekayaan bersih Kepala Eksekutif Tesla Inc Elon Musk juga naik US$14,1 miliar. 

“Sudah waktunya, bagi mereka yang memiliki kemampuan paling banyak untuk melangkah, untuk membantu mereka yang memiliki sedikit waktu dalam waktu yang luar biasa dalam sejarah dunia ini,” kata Beasley.

“Dunia membutuhkan Anda sekarang dan inilah waktunya untuk melakukan hal yang benar,” tegas Beasley. (CNA/The Guardian/I-1)

BERITA TERKAIT