19 September 2020, 03:00 WIB

Antibiotik Semasa Covid-19


FX Wikan Indrarto Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor di FK UKDW Yogyakarta | Opini

SEJUMLAH negara kini mampu memantau dan melapor kan tentang adanya resistansi antibiotik semasa pandemi covid-19. Hal ini menandai langkah maju yang besar dalam perang global melawan resistansi atau kekebalan kuman terhadap obat.

Data yang ada mengungkapkan bahwa sejumlah infeksi bakteri yang mengkhawatirkan semakin kebal terhadap obat antibiotik yang tersedia untuk mengobatinya. Apa yang perlu dicermati?

“Saat terkumpul lebih banyak bukti, terlihat dengan lebih jelas dan lebih mengkhawatirkan seberapa cepat kita kehilangan obat antimikroba yang sangat penting di seluruh dunia,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Data ini menggarisbawahi pentingnya melindungi obat antibiotik yang kita miliki dan mengembangkan jenis obat antibiotik baru untuk mengobati infeksi bakteri secara efektif. Menjaga prestasi bidang kesehatan yang diperoleh dalam abad terakhir dan memastikan masa depan yang aman.

Sejak adanya laporan Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) WHO pada 2018, partisipasi telah tumbuh secara eksponensial. Hanya dalam tiga tahun terakhir, sistem ini sekarang mampu mengumpulkan data dari lebih 64.000 situs pengawasan penggunaan obat antibiotik, dengan lebih dari 2 juta pasien terdaftar dari 66 negara di seluruh dunia. Pada 2018, jumlah situs pengawasan ialah 729 di 22 negara.

Lebih banyak negara juga melaporkan indikator yang telah disetujui tentang resistansi antimikroba atau anti microbial resistance (AMR) sebagai bagian dari pemantauan tujuan pembangunan berkelanjutan. Ekspansi besar-besaran beberapa negara, fasilitas kesehatan, dan pasien yang tercakup sistem pengawasan AMR, memungkinkan untuk mendokumentasikan dengan lebih baik ancaman kesehatan masyarakat yang muncul akibat AMR.


Panduan

Tingkat resistansi yang tinggi di antara antimikroba, khususnya antibiotik yang sering digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang umum, seperti infeksi saluran kemih dan diare, menunjukkan bahwa dunia kehabisan cara efektif untuk mengatasi penyakit ini. Misalnya, tingkat resistansi terhadap obat ciprofloxacin, antibiotik yang paling sering digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, bervariasi dari 8,4% hingga 92,9% di 33 negara yang melaporkan.

Kita semua haruslah khawatir tren perburukan tersebut akan semakin hebat karena dipicu penggunaan antibiotik yang tidak tepat selama pandemi covid-19.

Bukti menunjukkan bahwa sebenarnya hanya sebagian kecil pasien covid-19 yang membutuhkan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri. WHO telah mengeluarkan panduan untuk tidak memberikan obat antibiotik sebagai terapi ataupun profi laksis kepada pasien dengan covid-19 ringan, atau kepada pasien dengan dugaan, atau dikonfirmasi penyakit covid-19 sedang. Kecuali, ada indikasi klinis untuk melakukannya.

Kita semua prihatin dengan penurunan investasi, termasuk oleh sektor swasta, dan kurangnya inovasi dalam pengembangan obat antibiotik baru. Selain itu, juga faktor-faktor yang menghambat upaya untuk memerangi infeksi bakteri yang resistan terhadap obat.

Kini saatnya kita harus meningkatkan kerja sama dan kemitraan global, termasuk antara sektor publik dan swasta, untuk memberikan insentif keuangan dan nonkeuangan untuk pengembangan obat antibiotik dan antimikroba yang baru dan inovatif.

Untuk mendukung upaya ini, perlu kesepakatan global tentang profil produk target obat antibiotik untuk memandu pengembangan pengobatan baru untuk infeksi bakteri yang telah resistan. Selain itu, juga disertai model ekonomi yang menyimulasikan biaya, risiko, dan resiko pengembalian investasi pengembangan antibiotik baru.


Pengobatan Inovatif

Pada akhir 2017,WHO menertbitkan daftar patogen prioritas, yaitu 12 kelas bakteri ditambah bakteri tuberkulosis, yang meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia secara global. Bakteri tersebut telah resistan terhadap sebagian besar obat antibiotik yang ada.

Daftar tersebut disusun untuk mendorong komunitas riset medis dalam mengembangkan pengobatan inovatif untuk bakteri yang telah resistan. Antibiotik yang sedang dikembangkan untuk melawan patogen prioritas WHO meliputi-laktam, tetrasiklin, aminoglikosida, topoisomerase inhibitor, penghambat FabI, FtsZ inhibitor.

Lalu, oksazolidinon, macrolides dan ketolides, hibrida, polimiksin. Kemudian, infeksi TB, DprE1 inhibitor, dan infeksi c diffi cile.

Panduan tata laksana medis yang jelas dan ketat tentang penggunaan antibiotik saat pandemi covid-19 ini akan membantu berbagai negara dalam menangani covid-19 secara efektif sekaligus mencegah muncul dan berkembangnya resistansi antibiotik.

Sudahkah kita bijak?

BERITA TERKAIT