19 September 2020, 00:05 WIB

Semangat Berbagi Di Kala Pandemi


Jodi Visnu, Konsultan Health Philanthropy and Health Marketing | Opini

MAKNA dari filantropi adalah kedermawanan, suatu perbuatan sukarela untuk kemaslahatan umum. Pada 2018, Indonesia telah dinobatkan sebagai negara paling dermawan melalui World Giving Index yang dirilis oleh Charities Aid Foundation.

Perkembangan filantropi di Indonesia bersumber dari ajaran agama dan tradisi lokal. Seperti zakat, infak, dan sedekah di ajaran agama Islam, serta perpuluhan dan kolekte di agama Kristen dan Katolik. Demikian juga tradisi nenek moyang yang mengenal jimpitan, panelek, dan berderma yang mendukung filantropi di Indonesia.

Pada 2020, pemerintah telah mengalokasikan sebanyak lima persen dari APBN untuk anggaran kesehatan. Akan tetapi, pembiayaan kesehatan tidak dapat mengandalkan satu sumber yang teralokasi dari anggaran negara. Usaha mulia yang dilakukan oleh para pelaku filantropi diharapkan dapat menggugah semua elemen di dalam masyarakat untuk menyumbangkan dana, waktu, ide, maupun tenaga. Khususnya di kala pandemi covid-19 melanda.

Presiden telah menetapkan pandemi covid-19 sebagai bencana nasional non-alam melalui Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2020. Dengan ini, seluruh pendanaan yang terkait bencana dibebankan kepada pemerintah dengan melakukan perubahan APBD 2020 melalui Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2020. Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana sebesar Rp405,1 triliun untuk penanganan covid-19.

Walaupun pemerintah telah mengeluarkan dana kebencanaan dari APBN dan APBD untuk mendanai program pencegahan dan perawatan covid-19, intervensi ini belum cukup untuk menanggapi secara keseluruhan. Itu karena sifat aliran dana yang kaku dan lambat, sehingga sulit jika menanggapi perbedaan kondisi lapangan dan permasalahan penyerapan anggaran.

Dengan semangat gotong-royong dan solidaritas yang meningkat di masyarakat pada masa pandemi covid-19, filantropi memiliki peran yang besar dalam melengkapi kehadiran program pemerintah karena sifat aksinya yang fleksibel dan cepat. Peran filantropi tidak menggantikan kontribusi pendanaan pemerintah tetapi. Oleh karena itu, perlu ada pengembangan yang sistematis dalam penggalian dana filantropi di sektor kesehatan.

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menyelenggarakan Forum Nasional I Filantropi Kesehatan secara daring pada 21-22 Juli 2020. Forum ini diselenggarakan untuk menjawab pertanyaan, 'Adakah potensi dalam peran filantropi untuk mendanai pembangunan kesehatan di Indonesia?'

Kontribusi sektor swasta
Dampak dari pandemi covid-19 di Indonesia dirasakan oleh seluruh kalangan, baik kalangan medis maupun non-medis. Sesuai dengan asas filantropi berupa voluntary action for the public good, hal ini rupanya telah menyatu dengan masyarakat Indonesia yang sedari dulu bahu membahu untuk sesama yang membutuhkan.

Ditinjau dari peranannya, pelaku filantropi terbagi menjadi grantor (pemberi donasi), intermediary (pengumpul donasi), dan implementer (penyelenggara pelayanan).

Berbagai lembaga non-pemerintah telah bergerak untuk mengumpulkan donasi tanggap covid-19. Penggalangan donasi dilakukan dengan berbagai metode. Tak hanya donasi dalam bentuk dana, tetapi masyarakat juga menyumbang dalam bentuk barang seperti alat pelindung diri (APD) berupa masker, handschoen, hazmat suit, pelindung mata, juga barang lainnya seperti test kit.

Menurut laman Filantropi Tanggap COVID-19 yang dikelola oleh Perhimpunan Filantropi Indonesia (covid19filantropi.id), kontribusi sektor swasta hingga akhir Juni 2020 telah mencapai angka Rp905 miliar. 

Masyarakat Indonesia berkontribusi lewat donasi langsung kepada institusi implementer (penyelenggara layanan kesehatan), maupun donasi lewat berbagai platform yang tersedia. Beberapa selebritas dan selebgram pun turut mendengungkan semangat berbagi dengan menjadi fundraiser dan memanfaatkan platform donasi.

Kolaborasi dengan pemerintah
Terkait dengan peran filantropi dalam pembiayaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV 2020-2024, filantropi menjadi salah satu cara untuk eksplorasi sumber pendanaan baru dengan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha dan juga peningkatan peran swasta dalam kegiatan tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/ CSR).

Kolaborasi antara donor dan pemerintah dapat meningkatkan keberlanjutan filantropi kesehatan dalam fokus program peningkatan gizi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, penanganan penyakit, kesehatan ibu dan anak, infrastruktur kesehatan, dan penanganan bencana.

Tak hanya masyarakat dan pemerintah, tetapi juga diperlukan kolaborasi dengan media, pelaku usaha, dan akademisi untuk perlindungan pihak yang rentan dan meminimalisir dampak sosial-ekonomi (kolaborasi pentahelix).

Filantropi diharapkan dapat mengisi kekosongan pembiayaan pada kegiatan yang dianggap sulit didanai oleh anggaran negara. Harapannya, filantropi dalam sektor kesehatan dapat mendukung pencapaian target pembangunan nasional dalam RPJMN IV 2020-2024 maupun Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs) dan dilaksanakan secara integratif, sistematis, transparan, dan akuntabel.
 

BERITA TERKAIT