18 September 2020, 15:44 WIB

FBI Sebut Rusia Masih Campuri Pilpres AS


Faustinus Nua | Internasional

BIRO Investigasi Federal (FBI) memperingatkan Rusia agar tidak mencampuri pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS). Diketahui, ada sejumlah kabar bohong (hoaks) yang bertujuan menghancurkan kandidat Partai Demokrat, Joe Biden.

Beragam hoaks juga berupaya menghancurkan kepercayaan publik di Negeri Paman Sam terhadap pesta demokrasi. "Pukulan telak dari informasi yang salah dikhawatirkan merusak kepercayaan pada hasil pemilihan umum (pemilu) tahun ini,” ujar Direktur FBI Christopher Wray.

Baca juga: Biden Berjanji Akhiri Musim Kegelapan Amerika Serikat

Dia menyebut Rusia juga berusaha melemahkan isu anti-Rusia. Di depan komite DPR, Wray berulang kali berbicara tentang campur tangan Rusia dalam pemilu AS. FBI dikatakannya berkomitmen untuk menghadang upaya Rusia merusak pemilu tahun ini.

Agen Rusia, lanjut Wray, sebagian besar berusaha memengaruhi pemilu melalui peranan asing. Seperti, fitnah melalui media sosial, media pemerintah, hingga penggunaan proxy.

"Rusia saat ini berusaha merusak citra Biden, serta ingin menghilangkan stigma anti-Rusia,” imbuhnya.

Baca juga: Gelar Kampanye di Tulsa, Trump Gagal Tarik Massa

Dari sejumlah tinjauan FBI menyimpulkan bahwa Rusia berniat untuk meningkatkan suara Donald Trump pada pemilihan presiden AS 2016. Kemudian, merusak citra saingan dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Namun, Trump tidak terima dengan hasil temuan FBI. Pun, Rusia secara resmi menepis kabar tersebut. Menyoroti Tiongkok, FBI menilai pemerintahannya berupaya mencari informasi sensitif soal AS, termasuk teknologi. Saat ini, FBI melakukan banyak investigasi terhadap gelombang ekstremis domestik.(TheGuardian/OL-11)

BERITA TERKAIT