18 September 2020, 02:55 WIB

3.500 Warga Palestina Terbunuh Selama Era Netanyahu


MI | Internasional

SELAMA Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memimpin Israel, hampir 3.500 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi martir dan ribuan lainnya terluka dalam serangan pasukan Israel.

Netanyahu, yang ditampilkan sebagai salah satu arsitek utama penindasan dan pelanggaran Israel terhadap Palestina, menjabat sebagai perdana menteri selama dua serangan berdarah di Jalur Gaza di bawah blokade oleh tentara Israel.

Melansir Anadolu, Rabu (16/9), menurut data kelompok hak asasi Israel B’Tselem, hampir 3.500 warga Palestina telah menjadi martir dalam serangan pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki dan mengepung Gaza sejak 2009 ketika Netanyahu menjadi perdana menteri.

Dari ribuan Palestina yang kehilangan nyawa dalam serangan Israel, 799 ialah anakanak dan 342 perempuan. Netanyahu, yang menduduki kursi perdana menteri tujuh kali, memerintahkan serangan Operation Pillar of Cloud pada 2012 dan serangan Operation Protective Edge pada 2014 terhadap Jalur Gaza.

Menurut data B’Tselem, 167 warga Palestina kehilangan nyawa dalam serangan Israel pada 2012 di Gaza. Tahun 2014 merupakan salah satu tahun paling berdarah dalam sejarah Palestina akibat serangan yang dilancarkan Israel di Gaza pada 8 Juli, di bawah Netanyahu.

Menurut laporan PBB, tentara Israel menyerang Gaza dengan 6.000 serangan udara dengan hampir 50.000 tank dan peluru artileri selama 50 hari. Dalam serangan Israel itu, 2.251 warga Palestina, termasuk 551 anak-anak dan 299 perempuan, menjadi martir, lebih dari 11.000 o rang terluka, dan lebih dari 1.500 anakanak menjadi yatim piatu.

Otoritas Palestina mencatat 28.366 rumah rusak di kota itu, hancur terutama oleh serangan udara, mengakibatkan 3.329 rumah hancur seluruhnya dan 23.445 hancur sebagian. Sekitar 65.000 warga Palestina kehilangan tempat tinggal di Gaza, tempat infrastruktur rusak parah akibat serangan itu.

Pembantaian di depan mata dunia terus terjadi di era Netanyahu. Atas perintah Netanyahu, yang memerintahkan serangan 2012 dan 2014 di antara serangan paling berdarah di Gaza pasukan Israel melakukan pembantaian baru di wilayah tersebut pada 2018.

Selama demonstrasi damai dengan nama Great March of Return yang diluncurkan di perbatasan Gaza pada 30 Maret 2018 dan berlangsung selama berbulan-bulan, tentara Israel tidak menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan yang berlebihan, termasuk peluru sungguhan, terhadap orang Palestina. Tentara Israel membantai warga Palestina di depan mata dunia selama protes, yang disiarkan langsung oleh saluran TV lokal. (Hym/AA/I-1)
 

BERITA TERKAIT