17 September 2020, 19:26 WIB

Ketua Dewan Komisaris OJK : Ekosistem Syariah Harus Terintegrasi


Fetry Wuryasti | Ekonomi

INDONESIA memiliki potensi untuk berkembangnya ekonomi syariah. Sebab merujuk pada Global Islamic Finansial Report 2019, Indonesia berada di peringkat pertama dengan skor 81,93. Prestasi ini selayaknya menumbuhkan optimisme untuk mewujudkan cita Indonesia menjadi hub keuangan syariah dunia. 

Maka ekonomi syariah seharusnya bisa mengambil peran penting, terutama dalam mempercepat pemulihan ekonomi yang redup akibat pandemi covid-19.

Namun kendalanya disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, ada pada masih tidak sinerginya antara sektor keuangan syariah dengan dengan produk-produk yang berbasis syariah di Indonesia.

Mayoritas masyarakat Indonesia sendiri sudah berbasis religius, produk berbasis syariah pun sangat banyak, mulai dari produk keuangan dan pasar modal syariah, wisata, makanan, kosmetik dan fesyen halal, masjid, kegiatan haji umroh, masjid, pesantren lembaga zakat dan lainnya. Semua ini menjadi potensi luar biasa dengan demand pasar yang besar.

“Namun produk-produk ini tidak diberdayakan dengan baik ekosistemnya. Maka bagaimana kita menciptakan ekosistem syariah yang lengkap,” kata Wimboh, dalam webinar Peran Penjaminan Syariah Dalam Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis (17/9).

Dia tekankan tidak cukup bila sektor keuangan syariah hanya berdiri sendiri. Ekosistem lainnya harus terintegrasi, yaitu nasabahnya dari segi permintaan, aktivitas ekonomi syariahnya, supporting informasinya, dan lembaga pendukung lainnya.

Sektor keuangan syariah tidak akan optimal memberikan kontribusi terhadap negara kalau yang produk-produk mengelilingi sektor keuangan seperti media & rekreasi halal, makanan halal, nazhir, market place syariah, lembaga amil zakat, pesantren, masjid, haji dan umroh, wisata halal, farmasi & kosmetik halal, fashion halal itu tidak berdayakan dengan baik.

“Sehingga saya sebagai ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) punya tanggung jawab moral bagaimana ekosistem ini bisa tersusun dengan baik, yang mendukung optimalisasi hadirnya keuangan syariah,” kata Wimboh.

Selama sektor ekonomi syariah, kata Wimboh, hanya berkutat membahas lembaga dan sumber daya manusia di Bank syariah dan non bank syariah, pasar modal dan pasar modal syariah.

“Bolak balik produknya yang kita putar-putar. Tapi ekosistem syariahnya tidak pernah kita sentuh. Inilah waktunya kita sama-sama bagaimana bisa menjahit, menghadirkan semua ini (produk syariah) dalam ekosistem yang bisa mendukung sektor keuangan syariah,” tukas Wimboh. (Try/OL-09))

BERITA TERKAIT